Education Quotes

Jendela

Wednesday, June 23, 2021

“ ... BAHKAN AKU PUN BERDISKUSI DENGAN HUJAN”

Tema apa yang akan aku tulis, andai tidak ada satu pun teori menulis yang disajikan oleh pemateri? Banyak kepala akan berpikir keras, termasuk diriku. Sebenarnya banyak ide-ide yang bertebaran di sekelilingku, andai aku mau sedikit saja meluangkan waktu untuk memperhatikan peristiwa apa saja yang terjadi pada hari-hari yang telah dan sedang kujalani, termasuk ketika mentari pagi mulai menampakkan batang hidungnya di akhir bulan Mei ini. Ada apa dengan bulan Mei? Atau hujan yang turun tanpa pernah siapa pun mengundangnya. 

Semua dapat dijadikan bahan untuk menulis, apa pun itu. Ibarat mata air, seorang penulis tidak akan kehilangan ide-ide briliannya. Apa pun dapat dijadikan bahan untuk menulis. Bukankah sorang penulis harus siap sedia atas 1001 kemungkinan? Seorang penulis memiliki hak prerogatif atas dirinya untuk apa yang ditulisnya. Dan itu adalah modal utama yang harus dimiliki oleh seorang penulis, karena menulis adalah suatu kegiatan yang membutuhkan kreativitas lebih. Di tangan seorang penulis sesuatu yang biasa menjadi begitu istimewa. Berpikir out of box menjadi keharusan bagi seorang penulis. 

Bayangkan andai sorang penulis memiliki standar yang biasa-biasa saja, mungkin hasil karyanya tak akan diminati oleh siapa pun. Mungkin juga aku dan jutaan penonton di muka bumi tidak akan tertarik untuk menonton drama Korea, andai konten dari script yang ditulis oleh si penulisnya begitu datar, alur cerita yang membosankan dan tidak ada daya kreatif yang mumpuni di dalamnya. Tidak akan pernah menjadi trend dan nge-booming, dan diminati oleh semua kalangan di tanah air mau pun manca negara. Bahkan tidak akan pernah menghipnotis siapa pun. Kreativitas yang dimiliki oleh penulis menjadi penentu kuat menarik atau tidaknya sebuah cerita atau skenario yang ditulis. Aku pun dapat membandingkan perbedaan antara drama seri Meteor Garden versi Taiwan dan Korea. Meskipun memiliki alur cerita yang sama, namun disajikan dengan amat sangat berbeda. 

Jika kamu memiliki ide yang kamu pikir benar-benar bagus, jangan biarkan beberapa orang “idiot” itu menghentikanmu. Stan Lee~ Ingat Spider-Man, makhluk unik yang diciptakan oleh Stan Lee dan artis Steve Ditko. Yang menjadi salah satu pahlawan super terkenal di dunia? Sebuah video inspirasi mengisahkan tentang perjalanan Stan Lee, sebagai penulis dan tokoh khayalannya, Spider-Man. Diawali dengan aktivitas sederhana yang dilakukan oleh Lee, bermula ketika Lee memperhatikan seekor lalat yang sedang merayap di dinding. Kemudian muncul ide dan berkembanglah imaginasi liarnya. Di kemudian hari Spider-Man menjadi pahlawan super yang melegendaris. Spider-Man ditulis dalam dua versi, komik dan film. Tidak mudah bagi Lee untuk mewujudkannya, dibutuhkan kerja keras dan keyakinan. 

Tentang bagaimana aku mendapatkan ide-ide untuk menulis? Put yourself in somebody’s shoes/place, seolah-olah aku dapat merasakan kepedihan yang amat dalam yang dirasakan seseorang hanya karena aku membaca detail kata-kata yang tertulis dalam sebuah novel, artikel-artikel tentang masalah-masalah sosial, hasil reportase ataupun penelitian. Film atau drama yang aku saksikan, curhatan seorang teman atau seseorang yang diposisikan sebagai korban. Tidak mudah memposisikan diri ke orang lain, dibutuhkan observasi dan empati yang dalam. Untuk menulis tentang satu tema puisi saja bahkan dibutuhkan berlembar-lembar sumber bacaan yang harus dibaca sebagai referensi, sehingga aku dapat menuangkannya ke dalam bait-bait (Puisi “Human Trafficking 1-16, yang kutulis sekitar tahun 2007). 

Semua hal di dunia juga ternyata memiliki jiwa tidak hanya makhluk yang bernyawa, pun termasuk hujan, angin, matahari, bulan dan malam. Sebenarnya tidak ada alasan bagiku untuk mengeluh tentang hujan yang terjadi di setiap musimnya. Meski Climate Change (perubahan iklim) menjadikan hujan tak mematuhi sesuai jadwalnya. Aku merasakan hujan memberikan sesuatu yang amat spesial. 

Tetesan hujan menceritakan

Betapa indahnya mimpi-mimpi kita.~

Betapa syahdunya perasaanku ketika di tengah perjalanan menuju tempat kerja, di atas kendaraan roda dua, atau ketika aku berada di dalam pesawat ketika melakukan traveling, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Aku begitu menikmati irama yang mengalun dan bait-bait dari setiap tetesannya di balik jendela. Atau ketika aku terjebak kemacetan di suatu tempat menuju pulang. Sungguh aku merasakan ada keriuhan kegembiraan dan kepedihan sekaligus, yang ia ingin sampaikan. Bahkan setiap tetesannya kurasakan sebagai sebuah kerinduan yang teramat mendalam. 

Oktober

Hujan pertama turun

Setiap rintikan menyemaikan

Benih-benih kerinduanku~

Hujan adalah inspirasi. Andai aku mau mengambil waktu untuk mendengarkan lekat-lekat dan merenungkannya, tentu saja hujan akan berbicara dan bahkan mungkin berdiskusi tentang banyak hal padaku. Pastinya ia akan merasa lepas dan bebas bercerita tentang apa pun yang ia inginkan. Termasuk tentang mimpi-mimpinya, tentang harapan terpendamnya, tentang kisah-kisahnya. Dan bahkan mungkin tentang rahasia besarnya. Andai aku mau ... .~


Nadiyah, naskah pilihan di muat dalam Antologi Guru Menulis KMA OP 30. Jakarta, 23 Juni 2021

Tuesday, June 22, 2021

HIJRAH LITERASI : MENAPAKI JALAN SUNYI

 

 

Menulis adalah jalan sunyi. Jalan pembebasan dan pengembaraan diri~. Quote yang aku tulis ini terinspirasi dari beberapa penulis hebat dunia yang disajikan pada materi 1 dan 2 sgsi kma op 29 pada bulan Maret lalu. Yah, menulis adalah cara pembebasan diri sekaligus pengembaraan pada diri si penulis. Begitu kira-kira yang dapat aku simpulkan. Penulis begitu asyik dengan dunianya, sampai-sampai andai tidak tersedia waktu, mereka pun mampu untuk menciptakan waktu bagi dunianya. Sungguh ajaib! 

Kala hati gundah, senang, emosi memuncak, mengalami kebuntuan--tidak ada solusi ketika menghadapi berbagai persoalan hidup, ketakutan, kepedihan dan penderitaan atau rindu yang tak pernah bertepi, cara yang terbaik adalah melarikan diri menapaki jalan sunyi, menulis. Beberapa penulis terkenal mengambil jalan ini, bukan hanya sekedar untuk menyembuhkan atas kepedihan dan penderitaan yang dihadapi, tapi bagaimana mereka mampu mengelola situasi dan kondisi yang tidak menguntungkan menjadi sesuatu yang menggairahkan. Bahkan mampu memberikan inspirasi bagi masyarakat dunia. Anne Frank, dalam The Diary of a Young Girl. Sebuah buku harian yang ditulisnya pada masa perang, hidup dalam bayang-bayang ketakutan di masa rezim Nazi Hitler, yang kemudian menjadi bagian penting dari sejarah dunia. Bagi Anne menulis dapat menjadi sumber kenyamanan dan pengharapannya. 

Maya Angelou, penyair dan penulis sekaligus aktivis sipil Amerika yang terkenal. Catatan kehidupan masa kecilnya yang menyedihkan dapat dijadikan sumber inspirasi bagi siapa pun. Semua jejaknya terekam dalam buku yang ditulisnya, diantaranya buku yang berjudul I Know Why The Caged Bird Sings. Maya sedikitnya telah menerbitkan tujuh otobiografi, tiga buku esai, beberapa buku puisi serta jenis tulisan lainnya. Beberapa quote-nya sangat menginspirasiku, diantaranya adalah "If you don't like something, change it. If you can't change it, change your attitude".

Tahun 2018 sejak aku bergabung dalam komunitas menulis, dengan mantap jalan sunyi ini aku tempuh. Meski kegiatan menulis jauh sebelumnya sudah lama aku lakukan, akan tetapi dengan intensitas yang begitu kecil, tanpa komitmen apa pun. Padahal komitmen pada diri sendiri untuk menulis dan dilakukan secara step by step dan berkelanjutan adalah bagian yang sangat penting. Andai aku ingin memiliki skill dan menjadi penulis profesional dibutuhkan banyak latihan. Dan semua itu dapat terback up andai aku tergabung dalam komunitas menulis. 

Bergabung dalam komunitas menulis menambah energi baru, dan yang paling membahagiakan aku dapat menulis quote-ku sendiri, yang memang sejak lama aku impikan. Belajar untuk disiplin akan waktu, ada target yang hendak dicapai dan yang terpenting adalah membangun kepercayaan diri sendiri (build self-confidence) untuk menemukan jalannya sendiri. Menulis berarti memperhatikan dunia sekitar, memperhatikan detailnya. Aku pun harus membuka hati untuk apa yang aku lihat. Mendengarkan orang-orang yang berada di sekelilingku ketika mereka berbicara. Karena setiap orang memiliki ceritanya masing-masing, maka dengarkan dan ambil bagian dalam percakapan atau berdiskusi. Perhatikan apa yang mereka sampaikan, ajukan pertanyaan dan saat di mana mereka juga memberikan jawabnya. Dan satu hal yang paling penting dari semua itu adalah baca, baca dan baca.

“If you don't have time to read, you don't have the time (or the tools) to write. Simple as that.” –Stephen King. Membaca dan menulis memiliki hubungan yang begitu erat. \Memiliki makna sebagai sebuah proses yang panjang. Jika seseorang ingin menulis, maka harus banyak membaca. Melalui berbagai macam bacaan yang diminati oleh seorang penulis, ia merasa terbebaskan sekaligus dapat melakukan pengembaraan diri yang kemudian dituangkan dalam tulisan-tulisannya. Sehingga tidak heran mengapa seorang penulis seperti Ray Bradburry mampu menghabiskan seluruh hidupnya di hadapan mesin tik. Tidak akan pernah khawatir akan jadwal yang padat, yang seolah-olah membatasi ruang geraknya. Semua dilakukannya dengan penuh suka cita. Atau Stephen King, penulis skenario terkenal Amerika. Berkat kemahirannya menulis telah melahirkan 56 novel, puluhan cerpen dan bahkan komik.

Di dunia ini tidak ada profesi manapun yang tidak melibatkan kegiatan membaca. Seorang traveler-pelancong membutuhkan berbagai informasi sebelum mengunjungi suatu tempat atau ke suatu negara. Menentukan destinasi wisata impian apa yang diinginkannya. Setelah mendapatkan informasi yang cukup berikut tips-tipsnya, barulah si traveler-pelancong mempertimbangkan untuk mengunjunginya. Dengan tujuan untuk mendapatkan gambaran yang utuh tentang tempat wisata yang akan dituju dan pengalaman-pengalaman yang menakjubkan yang akan ditemuinya.

Andai pun aku seorang koki atau chef, sudah pasti membutuhkan sumber bacaan yang nantinya akan dijadikan rujukan untuk membuat berbagai macam varian menu sebelum disajikan kepada customer. Harus mengetahui seluk beluk memasak, bahan-bahan dan alat-alat lainnya yang diperlukan. Tentu saja selain memiliki keterampilan memasak, seorang chef dipercaya untuk memimpin dapur dan membuat racikan menu. Memberikan pelatihan dan teknik-teknik memasak kepada orang lain. Andai itu semua mereka tuangkan dalam sebuah tulisan akan tampak menarik, dan menambah value bagi si penulisnya. Begitu pula dengan profesi guru. Keren kan? 

Ketika aku melihat ke dalam diri seorang guru, yang ada dalam pikiranku adalah membaca dan menulis, selain itu tidak ada lagi~.  Bagi seorang guru membaca dan menulis adalah bagian yang tak terpisahkan. Berbagai macam varian data dapat dijadikan sumber untuk menulis. Setiap hari ada saja peristiwa unik yang bertebaran di sekitarnya. Mulai dari betapa heboh dan super heronya emak-emak ketika mengantar dan menjemput putra-putrinya di sekolah. Kisah-kisah inspiratif ketika berada di kelas, dengan teman sejawat, aktivitas pribadi di luar kegiatan sekolah (chatting, berinteraksi dengan orang asing), dan masih banyak cerita lainnya yang terkadang sedikit aneh, tak terduga. Andai seorang guru memiliki minat untuk menulis, mungkin seorang guru dapat menjadi blogger, novelis, cerpenis, peneliti, atau yang sekarang sedang booming di masa pandemi ini adalah menjadi youtuber, dengan pendapatan yang cukup fantastis!

Memang hidup adalah pilihan. Dan aku pun pada akhirnya harus memilih, dari sekian banyak aktivitas di luar sekolah hal yang membuat aku nyaman dan penuh pengharapan (meminjam istilah Anne Frank) adalah menulis. Bukan karena aku hidup dalam penderitaan sebagaimana Anne dan Maya, bukan. Tidak lain karena aku harus menemukan jalanku sendiri, menemukan jati diriku sendiri.~           

Nadiyah, Jakarta, 11 Juni 2021. Dimuat dalam Hijrah Literasi : 45 Artikel Pilihan SGSI KMA OP (Penyunting : Eka Wardana)


Wednesday, March 17, 2021

DUA SISI MATA UANG

Pernahkah kita sebagai guru merenung, sejak menjadi guru kehidupan kita lebih baik di bandingkan sebelumnya, terutama hal yang berkaitan dengan kesehatan mental kita? Satu pertanyaan yang menjadi pemikiran saya akhir-akhir ini, dengan begitu banyaknya permasalahan hidup yang di hadapi siapa pun, termasuk guru. Sebenarnya profesi guru bukan pilihan utama dalam hidup. Sebagaimana air yang mengalir, begitulah saya menjalani kehidupan. Mengikuti “panggilan alam”.

Pernah suatu hari saya mengunjungi salah satu guru yang hampir 16 tahun lamanya tidak pernah jumpa. Tidak ada yang berubah, kecuali pancaran kearifan di wajahnya. Saya tidak melihat perubahan fisik yang signifikan, masih tampak sama seperti ketika saya duduk di tingkat aliyah. Tampak awet muda, tetap enerjik. Terkadang dalam hati bertanya-tanya, kok bisa seperti itu ya?

Sebagai guru saya mempunyai keyakinan bahwa mengajar bukan hanya sekedar mentransfer pengetahuan saja, melainkan semua hal yang ada dalam diri kita (termasuk di dalamnya attitude, spirtual, intelegensi, moral dan emosi). Guru selain pengajar juga seorang pembelajar. Yang dipelajari bukan hanya bagaimana meningkatkan kualitas diri melalui pendidikan formal atau informal, menghadiri berbagai pelatihan, berkolaborasi dan berinovasi, mampu mengembangkan intelegensi ganda dalam proses pembelajaran pada peserta didik, tetapi juga bagaimana ia mampu selalu berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Sehingga di dalam dirinya terkumpul perilaku atau sikap yang baik, yang dapat menginspirasi dan mampu menjadi solusi ketika suatu hari menghadapi persoalan pelik seputar hubungan antara guru dengan siswa dan orang tua di sekolah.

“Bagaimana nih bu, anak saya susah sekali kalau dimintai bangun pagi. Selalu saja ketinggalan sholat subuhnya. Ujung-ujungnya saya yang ribut dengan anak”. Suatu waktu salah satu orang tua mengeluhkan kebiasaan kurang baik anaknya. Dalam menghadapi persoalan seperti ini guru tidak cukup hanya memberikan nasehat, menakut-nakuti tentang dosa dan neraka, tetapi harus mampu menyakinkan dan solusi yang diberikan dapat diterima secara logika, tentunya tetap dengan pendekatan yang persuasif.

Sebagai guru, saya pun dapat merasakan perubahan besar bagi diri saya sendiri. Menjadi pribadi yang penyabar, lebih terbuka (open minded) banyak memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk berkembang secara alami. Tidak cepat memvonis. Lebih mengkedepankan dialog, mau mendengarkan. Selalu berusaha positive thinking dan memberikan yang terbaik. 

Sebagai guru pembelajar, saya pun tidak akan berhenti belajar, tidak akan pernah puas. Terkadang kekurangan bahan materi atau metode pembelajaran yang diterapkan sudah usang, maka saya pun membutuhkan penyegaran. Saya tidak akan sungkan untuk terlibat dalam komunitas yang berbeda dengan mata pelajaran yang saya ampu, dengan tujuan mendapatkan hal-hal baru untuk dapat dikolaborasikan dalam upaya memperkaya metode pembelajaran di kelas. Tentu semuanya adalah sebuah proses menuju baik, yang akan berimbas pada akhirnya nanti pada peserta didik. Termasuk di dalamnya ketika saya tergabung dalam komunitas menulis.~nad

 

Nadiyah

Jakarta, 27 Februari 2021. Naskah pilihan dimuat dalam Antologi Pendidikan KMA-OP 28


Monday, March 1, 2021

MALAIKAT TANPA SAYAP

Deg! Tenggorokanku sedikit tercekat, ketika mengetahui Sakinah (bukan nama sebenarnya) sejak dari jam istirahat menungguku di depan pintu masuk kantor guru. Persis di depan pintu sejak beberapa menit yang lalu berjongkok dengan sesekali berdiri, mondar mandir menungguku. Mungkin hatinya gelisah dan sedikit tegang. Sedangkan aku bersiap-siap untuk menghadiri rapat setelah jam istirahat usai sekitar jam 10.15 pagi.

“Bu Nadiyah, sekarang kan giliran kelompok saya presentasi”, Sakinah sedikit merajuk mendekatiku. Awalnya wajahnya begitu sumigrah ketika melihatku keluar dari kantor guru. Dia berpikir aku akan masuk kelasnya. “Maaf ya bu nad ada rapat”. Dengan suara agak aku tekan sedikit.

“Yaa ibuuu ... “.  Giliran saya kapan lagi bu?” Ada segumpal kecewa di hatinya dari nada suaranya yang keluar dari mulut mungilnya. Aku tak dapat berbuat apa-apa selain melanjutkan langkahku menuju ruang meeting, meski pikiranku tak dapat lepas sepenuhnya untuk tidak memikirkannya.

Mungkin Sakinah dan kelompoknya sudah mempersiapkan bahan-bahan presentasi sejak minggu lalu, mengadakan rapat untuk pembagian tugas, menghafal bagian-bagian yang nantinya harus disampaikan dalam presentasi. Mungkin juga sampai mengorbankan tidur malamnya, waktu bermainnya, atau segudang kegiatan persiapan lainnya. Dan ketika hal itu telah siap untuk dipresentasikan, aku meng-cut begitu saja tanpa ada pemberitahuan sebelumnya,

Yah hari itu aku telah mengecewakannya dengan amat sangat, meski aku tahu tak sepenuhnya itu kesalahanku. Tetapi hal ini menjadi titik balik buatku dalam mengajar, untuk memikirkan lebih mendalam apabila suatu hari harus meninggalkan kelas. Aku harus memastikan apa yang aku lakukan harus dipertimbangkan baik dan buruknya terutama untuk murid-muridku. Aku harus memastikan kegiatan di luar mengajar harus dibatasi seminimal mungkin. Inilah yang kemudian menggugah kesadaranku tentang arti malaikat sesungguhnya. Mereka menggugah kesadaranku untuk selalu melakukan yang terbaik, berhati-hati dala bertindak, cermat dan penuh pengorbanan. Tentang arti malaikat, hal ini pernah aku diskusikan dengan rekan kerjaku. 

Seperti biasa setelah mengajar di jam ke empat, kami guru rehat beberapa menit, untuk sekedar minum dan makan makanan kecil atau melanjutkan sarapan yang tertunda. Karena bel di jam pertama sudah dimulai. 

"Murid-murid kita itu seperti malaikat. Karena merekalah kita guru menjadi pintar". Aku memulai diskusi kecil, sambil tak lepas menikmati hidangan seadanya, yang tak sempat disantap di awal pagi. 

"Malaikat? Malaikat dari mana? Mereka itu tidak bisa disebut malaikat, sudah akil baligh, genit, dan tidak punya rasa malu. Sudah kenal dosa". Rekan kerjaku sedikit nge-gas menimpali, kemudian melanjutkan : "Bu Nad, yang dimaksud seperti malaikat itu seperti anakku nih, umur empat tahun masih polos. Belum kenal dosa. Murid-murid kita kan umumnya usianya antara 13 – 15 tahun”. 

Apakah malaikat itu seperti yang dikatakan oleh rekan kerjaku itu? Aku hanya diam, tidak mengiyakan. Yang ada dibenakku, siapa pun yang mampu memberikan dorongan ke arah yang lebih baik dapat disebut malaikat, termasuk murid-muridku. Mereka mampu menggugah kesadaranku, untuk selalu melakukan yang terbaik. Benarlah apa yang disampaikan oleh guru ngajiku, bahwa yang membuat seorang guru itu pintar adalah murid-muridnya.~



Malaikat Kecilku

Mentari menyapa
Disela pagi yang teramat ripuh
Menebarkan aroma harumnya warna bumi
Meletupkan gairah
Mengingatkanku
Akan asaku yang kembali teruji
Menapak hari meraih mimpi

Diantara sekumpulan malaikat kecil
Di depan pintu gerbang sekolah
Tersenyum
Tulus menyambut
Wajah sumingrah
Dan mereka pun mengulurkan tangan
Tanpa ragu
Membimbingku sampai ke taman surga

Nadiyah, Jakarta, 11 November 2018


Nadiyah
Naskah pilihan dimuat dalam Antologi Guru Menulis KMA OP 27
Januari 2021

Monday, December 14, 2020

RUANG CINTA UNTUK MURIDKU

Setelah sholat subuh dan mengaji, aku seakan berpacu dengan waktu. Bangun sebelum subuh tidak menjamin waktu yang aku butuhkan tercukupi, tetap saja merasa kurang. Kupersiapkan diri diawali dengan mengecek WhatsApp yang menjadi satu-satunya sumber informasi untuk mencari link presensi, yang sengaja disematkan berulang kali untuk memudahkan anggota lainnya dalam group untuk tidak scroll ke atas terlalu jauh. Maklum kumpulan emak-emak, banyak hal yang dibicarakan. Selain itu ada presensi lainnya yang kami lakukan yaitu dengan melalui aplikasi Timestamp Camera, dan yang terakhir uji coba aplikasi terbaru Masook dari Simpatika.

Memulai aktivitas pagi ini di ruang kerja sekaligus ruang kamar, sudah menjadi kegiatan rutinitasku. Ruang sederhana ini seringkali memberikan inspirasi yang tak terduga. Ukurannya tidak terlalu besar, cukup untuk satu kasur spring bed ukuran 120 x 200 dengan ketebalan 30 cm. Lemari pakaian tiga pintu dan satu lemari kecil yang aku gunakan untuk menempatkan beraneka macam barang-barang, termasuk buku, aksesoris dan benda penting lainnya. Serta beberapa tumpukan kontainer yang ditempatkan di sebelah kanan sisi pintu. Ubin lantai warna abu-abu tempo dulu, dengan sebagian tembok bercat kuning. Jendela besar yang ditutupi oleh gorden juga berwarna kuning. Sisi kanannya bertengger hanger dengan beberapa pengait untuk handuk dan pakaian ganti.

Untuk pengingat waktu, kutempatkan jam dinding kira-kira satu meter tingginya di atas konteiner. Tidak ada meja. Aku biasa menulis sambil duduk bersila dengan laptop dan alasnya yang ditempatkan di atas kasur. Terkadang sambil tiduran aku menulis dan memeriksa tugas-tugas yang dikerjakan siswa dengan gedget di tangan. Semua itu tetap memberikan kenyamanan tersendiri. Dan pagi ini, di ruang sederhana ini sebagaimana biasa aku mempersiapkan materi sebelum PJJ dimulai.

Aku memutuskan untuk memberikan tugas akhir dalam bentuk proyek dari materi utama yang sebelumnya sudah disampaikan. Dalam kondisi normal, siswa dapat bekerja berkelompok dan berkumpul untuk menyelesaikan tugas proyek yang diberikan. Tetapi dalam kondisi seperti ini dengan protokol kesehatan yang ketat, tidak akan mudah untuk dilakukan.

Apa yang harus aku lakukan untuk materi ajar berikutnya? Kubuka beberapa file di laptop yang tersimpan apik di salah satu folder, tertulis Nadiyah 2019-2020. Dengan satu klik, terpampanglah beberapa uraian bahan ajar tahun lalu, yang tetap digunakan untuk kukembangkan kemudian. Setelah selesai, seperti biasa aku tak meletakan kembali laptop di tempatnya. Kubiarkan ia tergeletak berlama-lama di atas kasur empukku. Sudah lebih dari tiga tahun si putih bermerek Hp menemani.

Beberapa catatan sudah kutulis berisi langkah teknis yang harus dipersiapkan oleh siswa untuk tugas proyek yang harus dikerjakan berkelompok secara daring. Dimulai dari pembentukan kelompok di group WhatsApp, menentukan tema, membuat dialog, pengambilan gambar (biasanya aku meminta siswa menggunakan foto dirinya sendiri dan kelompoknya, tidak digambar atau mengambil foto dari internet sebagaimana ketentuan tahun lalu), dan aplikasi yang akan digunakan untuk hasil finalnya. Meski demikian beberapa pertanyaan akan muncul, dari mulai yang berkaitan dengan kemandirian diri siswa, sampai hal yang berkaitan dengan komunikasi yang tidak tersambung dengan sesama anggota kelompoknya.

“Bu Nadiyah, saya belum masuk kelompok”. Satu pesan tiba-tiba masuk ke ponselku.

“Silahkan dicek di group WhatsApp kelas ya. Perhatikan, Bu Nad sudah membagi menjadi enam kelompok. Kamu boleh memilih kelompok yang anggotanya masih kosong. Ketik nama kamu di sana”. Satu balasan pesan segera kulakukan, dan beberapa pesan lainnya saling bersautan dengan beragam pertanyaan.

“Bu Nadiyah, boleh ga gambar yang digunakan untuk komik tidak pakai foto, tapi gambar yang ada di aplikasi online?”

“Bu Nadiyah, boleh ga fotonya digambar sendiri ... “.

“Bu Nadiyah, smsku ga dibalas Shinta dari kemarin, bagaimana ya. Terakhir tugas dikumpulkan kapan?” Nada putus asa terdengar dari seberang sana. Memang ada beberapa siswa yang sulit untuk dihubungi dalam satu kelas, apalagi untuk mengerjakan tugas kelompok daring. Perlu kerja ekstra untuk membimbing dan mengarahkannya.

Selama PJJ, aku menghabiskan waktu lebih dari yang seharusnya 5 – 6 jam dalam sehari. Dimulai dari jam tujuh pagi sampai jam dua belas siang. Karena ruang kerja dan kamar tidur sekaligus jadi satu, membuatku lebih rileks. Kalau badan terasa mulai pegal, aku rehat sebentar kemudian kulanjutkan kembali.

Tanpa kusadari tiba-tiba sesuatu yang hangat membasahi pipi. Kulayangkan padangan ke seluruh sudut kamar. Ruang sederhana yang kutempati menyimpan begitu banyak cerita manis, ruang untuk membangun mimpi-mimpi. Dari sinilah aku memberikan cintaku pada murid-muridku.


Nadiyah, 14 November 2020 

Dimuat dalam Antologi Pendidikan 26


Thursday, August 27, 2020

PJJ DAN KEPRIHATINAN KITA

Selama belum berakhirnya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) transisi dalam menghadapi pandemi Covid-19, maka tatap muka dalam pembelajaran di sekolah belum akan dimulai. Meski saat ini dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Bersama 4 Menteri (Mendikbud, Menag, Menkes, Mendagri) tentang perubahan atas keputusan bersama sebelumnya Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran TP. 2020/2021 dan TA.2020/2021 di Masa Pandemi Covid-19 belumlah menjamin pelaksanaan pembelajaran berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan.

Ada begitu banyak keprihatinan terhadap berbagai macam persoalan yang dihadapi oleh siswa dan orang tua selama PJJ, begitu juga dengan guru. Mungkin berbagai macam pengalaman yang terjadi baik yang mengharukan, lucu, menarik, membuat diri ini merenung, tidak hanya membuat aku semakin memahami kebutuhan dan kesulitan para siswa ketika mereka melakukan pembelajaran jarak jauh, yang di mulai pada pertengahan bulan Maret. Dan ini juga akan menjadi kenangan dan catatan berharga di kemudian hari.

Awalnya para siswa begitu antusias dalam menerima materi pembelajaran yang diberikan oleh setiap guru, maklum masih baru. Belum mengetahui atau kurang mengerti tentang apa itu PJJ. Tibalah pada saat penyerahan tugas, ternyata ada beberapa siswa yang tidak dapat menyerahkan tugas tepat waktu. Dan itu terjadi berulang kali, tidak hanya dua atau tiga mata pelajaran bahkan hampir semua mata pelajaran. Dan ini juga terjadi di semua level kelas.

Tentu sebagai guru sekaligus wali kelas, aku pun mencari tahu apa yang terjadi. Ternyata ada beberapa siswa yang tidak memiliki gawai, kalau pun ada mereka tidak memiliki kuota yang cukup. Selain itu jangankan untuk memikirkan bagaimana belajar dan mengerjakan tugas dengan baik, kondisi mereka pun juga memprihatinkan akibat rumah yang mereka tempati diterjang banjir.

“Maaf bu, Lisa (bukan nama sebenarnya) hand phonenya tidak ada internetnya. Jadi dia tidak bisa mengerjakan tugas. Selama ini tugas dikirim melalui hand phone kakaknya”. Suara dikejauhan menjelaskan tentang keadaan putrinya yang tidak bisa mengirimkan tugasnya tepat waktu. Atau bagaimana kalau kakaknya juga tidak punya pulsa? Sementara dirinya juga tidak bekerja? Berbagai pertanyaan bertubi-tubi pada akhirnya muncul di kepala. Sungguh berat problem yang dihadapi orang tua siswa di masa pandemi ini. Belum lagi upaya keras yang harus aku lakukan sebagai wali kelas ketika berhadapan dengan guru pengampu mata pelajaran lainnya. Itu baru satu siswa, belum lagi masalah yang dihadapi oleh beberapa siswa lainnya tentu berbeda pula penanganannya.

Di tengah keprihatinan, ternyata masih ada hal positif yang dapat kutemukan. Ada beberapa siswa yang begitu gigih untuk mengikuti pembelajaran dan menyelesaikan tugas-tugasnya tepat waktu. Mereka tidak bosan untuk bertanya melalui whatsapp setiap hari, saat pagi ketika di mulainya pembelajaran, menjelang siang bahkan sampai malam hari. Yang terkait dengan materi pembelajaran yang tidak dimengerti atau hanya sekedar masalah teknis ketika menyerahkan tugas. Terkadang karena keterbatasan kuota, aku pun dengan senang hati membantu mengupload beberapa tugas siswa ke aplikasi e-learning madrasah sebagai bentuk tanggung jawab bahwa siswa telah mengerjakan tugasnya dengan baik.

“Bu Nadiyah, saya sudah beberapa kali mencoba upload tugas ke Penilaian Ketrampilan KI 4. Kok belum bisa terkirim ya? Ini sudah beberapa kali, bu”.  Aku merasakan nada putus asa teks yang dikirimkannya, dan aku pun tanpa ragu kemudian membalas smsnya : “Ya silahkan kirim file tugasnya, username dan passwords, nti bu Nad bantu”. Tidak lama kemudian hanya butuh dua tiga menit file tugasnya sudah dapat diupload dan terkirim. Dan sebagai guru, aku pun merasakan seutas senyum mengembang di kejauhan.

 

Nadiyah
27 Agustus 2020
Dimuat dalam Antologi Pendidikan 24


Friday, July 31, 2020

TAHUN AJARAN BARU, “KURIKULUM BARU”

Setelah memasuki dan melewati beberapa fase dalam penanganan Covid-19, dan kini menghadapi protokol kesehatan yang begitu ketat. Pertanyaan yang pertama kali muncul di kepala adalah apa yang harus dilakukan oleh guru dalam pembelajaran daring maupun pembelajaran tatap muka tentang perihal ketercapaian kurikulum dalam kondisi seperti ini?

Ternyata ada beberapa penyesuaian yang penting yang harus dilakukan oleh guru terutama dalam perihal ketercapaian kurikulum. Di sini dibutuhkan fleksibilitas dalam menghadapi tahun ajaran baru, yang semuanya serba baru. Perangkat lama yang ada disederhanakan, dijalankan mengikuti kondisi yang dihadapi, suka atau tidak. Sebagaimana diketahui bahwa pembelajaran dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat masih mengalami perbedaan persepsi.

Belum lagi jeritan dari berbagai penjuru, terutama bagi orang tua siswa yang kemampuan penghasilannya juga terbatas, bahkan mungkin tak ada sama sekali. Akan juga mempengaruhi keterlaksanaanya proses pembelajaran yang tidak hanya merugikan siswa, tetapi berdampak pada ketercapaian kurikulum dan tujuan pendidikan.

Yang perlu diperhatikan oleh guru, pertama adanya kebijakan yang mendukung upaya terlaksananya pendidikan yang sesuai di masa darurat ini, menjadikan guru dapat mengambil langkah-langkah yang diperlukan, yang nantinya tidak akan mengganggu proses pembelajaran dan ketercapaiannya kurikulum, juga dapat mengurangi beban kerja siswa dan guru itu sendiri. Dalam hal pendidikan di madrasah, dimana saya ada di dalamnya, pemerintah melalui Kementerian Agama melalui Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Nomor 2791 Tahun 2020, tertanggal 18 Mei 2020. Telah memberikan panduan berupa pedoman bagi setiap satuan pendidikan untuk dapat menyiapkan kurikulum, yang nantinya proses belajar dari rumah ini lebih menekankan pada pengembangan karakter, akhlak mulia, ubudiyah dan kemandirian siswa, dengan juga tetap memperhatikan pemenuhan aspek kompetensi, baik dasar maupun inti.

Kedua, penyederhanaan kurikulum yang dilakukan oleh pemerintah saja ternyata tidaklah cukup. Meskipun guru tetap tidak diwajibkan untuk mengejar ketuntasan ketercapaian kurikulum. Guru sebagai eksekutor di lapangan harus mampu menderivasikan dan melakukan beberapa terobosan secara hati-hati dan meminimalisir kendala yang terjadi selama proses pembelajaran berlangsung. Melalui metode pembelajaran yang lebih efektif dengan menentukan materi pembelajaran yang mana yang lebih diutamakan (esensial), dan aplikasi apa saja yang tepat untuk digunakan serta bahan ajar yang mudah diakses oleh siswa. Baik kesiapannya dalam pembelajaran luring maupun daring. Guru memberikan pembelajaran harus menyesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki siswa melalui inovasi dan kolaborasi yang dilakukannya. 

Bagaimana dengan materi pembelajaran PPKn, dan metode pembelajaran apa yang digunakan pada masa protokol kesehatan yang ketat ini? Semua itu membutuhkan penyesuaian dan mengikuti langkah-langkah yang sudah digariskan oleh pemerintah. Dalam hal matode pembelajaran PPKn, biasanya pada materi tertentu siswa diminta untuk membentuk kelompok diskusi. Nah diskusi kelompok ini masih dapat dilakukan melalui pembelajaran daring, jika pembelajaran luring tidak memungkinkan.


Jakarta, 31 Juli 2020

Nadiyah

Dimuat dalam Antologi Guru Menulis KMA OP 23