Education Quotes

Jendela

Wednesday, March 17, 2021

DUA SISI MATA UANG

Pernahkah kita sebagai guru merenung, sejak menjadi guru kehidupan kita lebih baik di bandingkan sebelumnya, terutama hal yang berkaitan dengan kesehatan mental kita? Satu pertanyaan yang menjadi pemikiran saya akhir-akhir ini, dengan begitu banyaknya permasalahan hidup yang di hadapi siapa pun, termasuk guru. Sebenarnya profesi guru bukan pilihan utama dalam hidup. Sebagaimana air yang mengalir, begitulah saya menjalani kehidupan. Mengikuti “panggilan alam”.

Pernah suatu hari saya mengunjungi salah satu guru yang hampir 16 tahun lamanya tidak pernah jumpa. Tidak ada yang berubah, kecuali pancaran kearifan di wajahnya. Saya tidak melihat perubahan fisik yang signifikan, masih tampak sama seperti ketika saya duduk di tingkat aliyah. Tampak awet muda, tetap enerjik. Terkadang dalam hati bertanya-tanya, kok bisa seperti itu ya?

Sebagai guru saya mempunyai keyakinan bahwa mengajar bukan hanya sekedar mentransfer pengetahuan saja, melainkan semua hal yang ada dalam diri kita (termasuk di dalamnya attitude, spirtual, intelegensi, moral dan emosi). Guru selain pengajar juga seorang pembelajar. Yang dipelajari bukan hanya bagaimana meningkatkan kualitas diri melalui pendidikan formal atau informal, menghadiri berbagai pelatihan, berkolaborasi dan berinovasi, mampu mengembangkan intelegensi ganda dalam proses pembelajaran pada peserta didik, tetapi juga bagaimana ia mampu selalu berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Sehingga di dalam dirinya terkumpul perilaku atau sikap yang baik, yang dapat menginspirasi dan mampu menjadi solusi ketika suatu hari menghadapi persoalan pelik seputar hubungan antara guru dengan siswa dan orang tua di sekolah.

“Bagaimana nih bu, anak saya susah sekali kalau dimintai bangun pagi. Selalu saja ketinggalan sholat subuhnya. Ujung-ujungnya saya yang ribut dengan anak”. Suatu waktu salah satu orang tua mengeluhkan kebiasaan kurang baik anaknya. Dalam menghadapi persoalan seperti ini guru tidak cukup hanya memberikan nasehat, menakut-nakuti tentang dosa dan neraka, tetapi harus mampu menyakinkan dan solusi yang diberikan dapat diterima secara logika, tentunya tetap dengan pendekatan yang persuasif.

Sebagai guru, saya pun dapat merasakan perubahan besar bagi diri saya sendiri. Menjadi pribadi yang penyabar, lebih terbuka (open minded) banyak memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk berkembang secara alami. Tidak cepat memvonis. Lebih mengkedepankan dialog, mau mendengarkan. Selalu berusaha positive thinking dan memberikan yang terbaik. 

Sebagai guru pembelajar, saya pun tidak akan berhenti belajar, tidak akan pernah puas. Terkadang kekurangan bahan materi atau metode pembelajaran yang diterapkan sudah usang, maka saya pun membutuhkan penyegaran. Saya tidak akan sungkan untuk terlibat dalam komunitas yang berbeda dengan mata pelajaran yang saya ampu, dengan tujuan mendapatkan hal-hal baru untuk dapat dikolaborasikan dalam upaya memperkaya metode pembelajaran di kelas. Tentu semuanya adalah sebuah proses menuju baik, yang akan berimbas pada akhirnya nanti pada peserta didik. Termasuk di dalamnya ketika saya tergabung dalam komunitas menulis.~nad

 

Nadiyah

Jakarta, 27 Februari 2021. Naskah pilihan dimuat dalam Antologi Pendidikan KMA-OP 28


Monday, March 1, 2021

MALAIKAT TANPA SAYAP

Deg! Tenggorokanku sedikit tercekat, ketika mengetahui Sakinah (bukan nama sebenarnya) sejak dari jam istirahat menungguku di depan pintu masuk kantor guru. Persis di depan pintu sejak beberapa menit yang lalu berjongkok dengan sesekali berdiri, mondar mandir menungguku. Mungkin hatinya gelisah dan sedikit tegang. Sedangkan aku bersiap-siap untuk menghadiri rapat setelah jam istirahat usai sekitar jam 10.15 pagi.

“Bu Nadiyah, sekarang kan giliran kelompok saya presentasi”, Sakinah sedikit merajuk mendekatiku. Awalnya wajahnya begitu sumigrah ketika melihatku keluar dari kantor guru. Dia berpikir aku akan masuk kelasnya. “Maaf ya bu nad ada rapat”. Dengan suara agak aku tekan sedikit.

“Yaa ibuuu ... “.  Giliran saya kapan lagi bu?” Ada segumpal kecewa di hatinya dari nada suaranya yang keluar dari mulut mungilnya. Aku tak dapat berbuat apa-apa selain melanjutkan langkahku menuju ruang meeting, meski pikiranku tak dapat lepas sepenuhnya untuk tidak memikirkannya.

Mungkin Sakinah dan kelompoknya sudah mempersiapkan bahan-bahan presentasi sejak minggu lalu, mengadakan rapat untuk pembagian tugas, menghafal bagian-bagian yang nantinya harus disampaikan dalam presentasi. Mungkin juga sampai mengorbankan tidur malamnya, waktu bermainnya, atau segudang kegiatan persiapan lainnya. Dan ketika hal itu telah siap untuk dipresentasikan, aku meng-cut begitu saja tanpa ada pemberitahuan sebelumnya,

Yah hari itu aku telah mengecewakannya dengan amat sangat, meski aku tahu tak sepenuhnya itu kesalahanku. Tetapi hal ini menjadi titik balik buatku dalam mengajar, untuk memikirkan lebih mendalam apabila suatu hari harus meninggalkan kelas. Aku harus memastikan apa yang aku lakukan harus dipertimbangkan baik dan buruknya terutama untuk murid-muridku. Aku harus memastikan kegiatan di luar mengajar harus dibatasi seminimal mungkin. Inilah yang kemudian menggugah kesadaranku tentang arti malaikat sesungguhnya. Mereka menggugah kesadaranku untuk selalu melakukan yang terbaik, berhati-hati dala bertindak, cermat dan penuh pengorbanan. Tentang arti malaikat, hal ini pernah aku diskusikan dengan rekan kerjaku. 

Seperti biasa setelah mengajar di jam ke empat, kami guru rehat beberapa menit, untuk sekedar minum dan makan makanan kecil atau melanjutkan sarapan yang tertunda. Karena bel di jam pertama sudah dimulai. 

"Murid-murid kita itu seperti malaikat. Karena merekalah kita guru menjadi pintar". Aku memulai diskusi kecil, sambil tak lepas menikmati hidangan seadanya, yang tak sempat disantap di awal pagi. 

"Malaikat? Malaikat dari mana? Mereka itu tidak bisa disebut malaikat, sudah akil baligh, genit, dan tidak punya rasa malu. Sudah kenal dosa". Rekan kerjaku sedikit nge-gas menimpali, kemudian melanjutkan : "Bu Nad, yang dimaksud seperti malaikat itu seperti anakku nih, umur empat tahun masih polos. Belum kenal dosa. Murid-murid kita kan umumnya usianya antara 13 – 15 tahun”. 

Apakah malaikat itu seperti yang dikatakan oleh rekan kerjaku itu? Aku hanya diam, tidak mengiyakan. Yang ada dibenakku, siapa pun yang mampu memberikan dorongan ke arah yang lebih baik dapat disebut malaikat, termasuk murid-muridku. Mereka mampu menggugah kesadaranku, untuk selalu melakukan yang terbaik. Benarlah apa yang disampaikan oleh guru ngajiku, bahwa yang membuat seorang guru itu pintar adalah murid-muridnya.~



Malaikat Kecilku

Mentari menyapa
Disela pagi yang teramat ripuh
Menebarkan aroma harumnya warna bumi
Meletupkan gairah
Mengingatkanku
Akan asaku yang kembali teruji
Menapak hari meraih mimpi

Diantara sekumpulan malaikat kecil
Di depan pintu gerbang sekolah
Tersenyum
Tulus menyambut
Wajah sumingrah
Dan mereka pun mengulurkan tangan
Tanpa ragu
Membimbingku sampai ke taman surga

Nadiyah, Jakarta, 11 November 2018


Nadiyah
Naskah pilihan dimuat dalam Antologi Guru Menulis KMA OP 27
Januari 2021

Monday, December 14, 2020

RUANG CINTA UNTUK MURIDKU

Setelah sholat subuh dan mengaji, aku seakan berpacu dengan waktu. Bangun sebelum subuh tidak menjamin waktu yang aku butuhkan tercukupi, tetap saja merasa kurang. Kupersiapkan diri diawali dengan mengecek WhatsApp yang menjadi satu-satunya sumber informasi untuk mencari link presensi, yang sengaja disematkan berulang kali untuk memudahkan anggota lainnya dalam group untuk tidak scroll ke atas terlalu jauh. Maklum kumpulan emak-emak, banyak hal yang dibicarakan. Selain itu ada presensi lainnya yang kami lakukan yaitu dengan melalui aplikasi Timestamp Camera, dan yang terakhir uji coba aplikasi terbaru Masook dari Simpatika.

Memulai aktivitas pagi ini di ruang kerja sekaligus ruang kamar, sudah menjadi kegiatan rutinitasku. Ruang sederhana ini seringkali memberikan inspirasi yang tak terduga. Ukurannya tidak terlalu besar, cukup untuk satu kasur spring bed ukuran 120 x 200 dengan ketebalan 30 cm. Lemari pakaian tiga pintu dan satu lemari kecil yang aku gunakan untuk menempatkan beraneka macam barang-barang, termasuk buku, aksesoris dan benda penting lainnya. Serta beberapa tumpukan kontainer yang ditempatkan di sebelah kanan sisi pintu. Ubin lantai warna abu-abu tempo dulu, dengan sebagian tembok bercat kuning. Jendela besar yang ditutupi oleh gorden juga berwarna kuning. Sisi kanannya bertengger hanger dengan beberapa pengait untuk handuk dan pakaian ganti.

Untuk pengingat waktu, kutempatkan jam dinding kira-kira satu meter tingginya di atas konteiner. Tidak ada meja. Aku biasa menulis sambil duduk bersila dengan laptop dan alasnya yang ditempatkan di atas kasur. Terkadang sambil tiduran aku menulis dan memeriksa tugas-tugas yang dikerjakan siswa dengan gedget di tangan. Semua itu tetap memberikan kenyamanan tersendiri. Dan pagi ini, di ruang sederhana ini sebagaimana biasa aku mempersiapkan materi sebelum PJJ dimulai.

Aku memutuskan untuk memberikan tugas akhir dalam bentuk proyek dari materi utama yang sebelumnya sudah disampaikan. Dalam kondisi normal, siswa dapat bekerja berkelompok dan berkumpul untuk menyelesaikan tugas proyek yang diberikan. Tetapi dalam kondisi seperti ini dengan protokol kesehatan yang ketat, tidak akan mudah untuk dilakukan.

Apa yang harus aku lakukan untuk materi ajar berikutnya? Kubuka beberapa file di laptop yang tersimpan apik di salah satu folder, tertulis Nadiyah 2019-2020. Dengan satu klik, terpampanglah beberapa uraian bahan ajar tahun lalu, yang tetap digunakan untuk kukembangkan kemudian. Setelah selesai, seperti biasa aku tak meletakan kembali laptop di tempatnya. Kubiarkan ia tergeletak berlama-lama di atas kasur empukku. Sudah lebih dari tiga tahun si putih bermerek Hp menemani.

Beberapa catatan sudah kutulis berisi langkah teknis yang harus dipersiapkan oleh siswa untuk tugas proyek yang harus dikerjakan berkelompok secara daring. Dimulai dari pembentukan kelompok di group WhatsApp, menentukan tema, membuat dialog, pengambilan gambar (biasanya aku meminta siswa menggunakan foto dirinya sendiri dan kelompoknya, tidak digambar atau mengambil foto dari internet sebagaimana ketentuan tahun lalu), dan aplikasi yang akan digunakan untuk hasil finalnya. Meski demikian beberapa pertanyaan akan muncul, dari mulai yang berkaitan dengan kemandirian diri siswa, sampai hal yang berkaitan dengan komunikasi yang tidak tersambung dengan sesama anggota kelompoknya.

“Bu Nadiyah, saya belum masuk kelompok”. Satu pesan tiba-tiba masuk ke ponselku.

“Silahkan dicek di group WhatsApp kelas ya. Perhatikan, Bu Nad sudah membagi menjadi enam kelompok. Kamu boleh memilih kelompok yang anggotanya masih kosong. Ketik nama kamu di sana”. Satu balasan pesan segera kulakukan, dan beberapa pesan lainnya saling bersautan dengan beragam pertanyaan.

“Bu Nadiyah, boleh ga gambar yang digunakan untuk komik tidak pakai foto, tapi gambar yang ada di aplikasi online?”

“Bu Nadiyah, boleh ga fotonya digambar sendiri ... “.

“Bu Nadiyah, smsku ga dibalas Shinta dari kemarin, bagaimana ya. Terakhir tugas dikumpulkan kapan?” Nada putus asa terdengar dari seberang sana. Memang ada beberapa siswa yang sulit untuk dihubungi dalam satu kelas, apalagi untuk mengerjakan tugas kelompok daring. Perlu kerja ekstra untuk membimbing dan mengarahkannya.

Selama PJJ, aku menghabiskan waktu lebih dari yang seharusnya 5 – 6 jam dalam sehari. Dimulai dari jam tujuh pagi sampai jam dua belas siang. Karena ruang kerja dan kamar tidur sekaligus jadi satu, membuatku lebih rileks. Kalau badan terasa mulai pegal, aku rehat sebentar kemudian kulanjutkan kembali.

Tanpa kusadari tiba-tiba sesuatu yang hangat membasahi pipi. Kulayangkan padangan ke seluruh sudut kamar. Ruang sederhana yang kutempati menyimpan begitu banyak cerita manis, ruang untuk membangun mimpi-mimpi. Dari sinilah aku memberikan cintaku pada murid-muridku.


Nadiyah, 14 November 2020 

Dimuat dalam Antologi Pendidikan 26


Thursday, August 27, 2020

PJJ DAN KEPRIHATINAN KITA

Selama belum berakhirnya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) transisi dalam menghadapi pandemi Covid-19, maka tatap muka dalam pembelajaran di sekolah belum akan dimulai. Meski saat ini dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Bersama 4 Menteri (Mendikbud, Menag, Menkes, Mendagri) tentang perubahan atas keputusan bersama sebelumnya Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran TP. 2020/2021 dan TA.2020/2021 di Masa Pandemi Covid-19 belumlah menjamin pelaksanaan pembelajaran berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan.

Ada begitu banyak keprihatinan terhadap berbagai macam persoalan yang dihadapi oleh siswa dan orang tua selama PJJ, begitu juga dengan guru. Mungkin berbagai macam pengalaman yang terjadi baik yang mengharukan, lucu, menarik, membuat diri ini merenung, tidak hanya membuat aku semakin memahami kebutuhan dan kesulitan para siswa ketika mereka melakukan pembelajaran jarak jauh, yang di mulai pada pertengahan bulan Maret. Dan ini juga akan menjadi kenangan dan catatan berharga di kemudian hari.

Awalnya para siswa begitu antusias dalam menerima materi pembelajaran yang diberikan oleh setiap guru, maklum masih baru. Belum mengetahui atau kurang mengerti tentang apa itu PJJ. Tibalah pada saat penyerahan tugas, ternyata ada beberapa siswa yang tidak dapat menyerahkan tugas tepat waktu. Dan itu terjadi berulang kali, tidak hanya dua atau tiga mata pelajaran bahkan hampir semua mata pelajaran. Dan ini juga terjadi di semua level kelas.

Tentu sebagai guru sekaligus wali kelas, aku pun mencari tahu apa yang terjadi. Ternyata ada beberapa siswa yang tidak memiliki gawai, kalau pun ada mereka tidak memiliki kuota yang cukup. Selain itu jangankan untuk memikirkan bagaimana belajar dan mengerjakan tugas dengan baik, kondisi mereka pun juga memprihatinkan akibat rumah yang mereka tempati diterjang banjir.

“Maaf bu, Lisa (bukan nama sebenarnya) hand phonenya tidak ada internetnya. Jadi dia tidak bisa mengerjakan tugas. Selama ini tugas dikirim melalui hand phone kakaknya”. Suara dikejauhan menjelaskan tentang keadaan putrinya yang tidak bisa mengirimkan tugasnya tepat waktu. Atau bagaimana kalau kakaknya juga tidak punya pulsa? Sementara dirinya juga tidak bekerja? Berbagai pertanyaan bertubi-tubi pada akhirnya muncul di kepala. Sungguh berat problem yang dihadapi orang tua siswa di masa pandemi ini. Belum lagi upaya keras yang harus aku lakukan sebagai wali kelas ketika berhadapan dengan guru pengampu mata pelajaran lainnya. Itu baru satu siswa, belum lagi masalah yang dihadapi oleh beberapa siswa lainnya tentu berbeda pula penanganannya.

Di tengah keprihatinan, ternyata masih ada hal positif yang dapat kutemukan. Ada beberapa siswa yang begitu gigih untuk mengikuti pembelajaran dan menyelesaikan tugas-tugasnya tepat waktu. Mereka tidak bosan untuk bertanya melalui whatsapp setiap hari, saat pagi ketika di mulainya pembelajaran, menjelang siang bahkan sampai malam hari. Yang terkait dengan materi pembelajaran yang tidak dimengerti atau hanya sekedar masalah teknis ketika menyerahkan tugas. Terkadang karena keterbatasan kuota, aku pun dengan senang hati membantu mengupload beberapa tugas siswa ke aplikasi e-learning madrasah sebagai bentuk tanggung jawab bahwa siswa telah mengerjakan tugasnya dengan baik.

“Bu Nadiyah, saya sudah beberapa kali mencoba upload tugas ke Penilaian Ketrampilan KI 4. Kok belum bisa terkirim ya? Ini sudah beberapa kali, bu”.  Aku merasakan nada putus asa teks yang dikirimkannya, dan aku pun tanpa ragu kemudian membalas smsnya : “Ya silahkan kirim file tugasnya, username dan passwords, nti bu Nad bantu”. Tidak lama kemudian hanya butuh dua tiga menit file tugasnya sudah dapat diupload dan terkirim. Dan sebagai guru, aku pun merasakan seutas senyum mengembang di kejauhan.

 

Nadiyah
27 Agustus 2020
Dimuat dalam Antologi Pendidikan 24


Friday, July 31, 2020

TAHUN AJARAN BARU, “KURIKULUM BARU”

Setelah memasuki dan melewati beberapa fase dalam penanganan Covid-19, dan kini menghadapi protokol kesehatan yang begitu ketat. Pertanyaan yang pertama kali muncul di kepala adalah apa yang harus dilakukan oleh guru dalam pembelajaran daring maupun pembelajaran tatap muka tentang perihal ketercapaian kurikulum dalam kondisi seperti ini?

Ternyata ada beberapa penyesuaian yang penting yang harus dilakukan oleh guru terutama dalam perihal ketercapaian kurikulum. Di sini dibutuhkan fleksibilitas dalam menghadapi tahun ajaran baru, yang semuanya serba baru. Perangkat lama yang ada disederhanakan, dijalankan mengikuti kondisi yang dihadapi, suka atau tidak. Sebagaimana diketahui bahwa pembelajaran dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat masih mengalami perbedaan persepsi.

Belum lagi jeritan dari berbagai penjuru, terutama bagi orang tua siswa yang kemampuan penghasilannya juga terbatas, bahkan mungkin tak ada sama sekali. Akan juga mempengaruhi keterlaksanaanya proses pembelajaran yang tidak hanya merugikan siswa, tetapi berdampak pada ketercapaian kurikulum dan tujuan pendidikan.

Yang perlu diperhatikan oleh guru, pertama adanya kebijakan yang mendukung upaya terlaksananya pendidikan yang sesuai di masa darurat ini, menjadikan guru dapat mengambil langkah-langkah yang diperlukan, yang nantinya tidak akan mengganggu proses pembelajaran dan ketercapaiannya kurikulum, juga dapat mengurangi beban kerja siswa dan guru itu sendiri. Dalam hal pendidikan di madrasah, dimana saya ada di dalamnya, pemerintah melalui Kementerian Agama melalui Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Nomor 2791 Tahun 2020, tertanggal 18 Mei 2020. Telah memberikan panduan berupa pedoman bagi setiap satuan pendidikan untuk dapat menyiapkan kurikulum, yang nantinya proses belajar dari rumah ini lebih menekankan pada pengembangan karakter, akhlak mulia, ubudiyah dan kemandirian siswa, dengan juga tetap memperhatikan pemenuhan aspek kompetensi, baik dasar maupun inti.

Kedua, penyederhanaan kurikulum yang dilakukan oleh pemerintah saja ternyata tidaklah cukup. Meskipun guru tetap tidak diwajibkan untuk mengejar ketuntasan ketercapaian kurikulum. Guru sebagai eksekutor di lapangan harus mampu menderivasikan dan melakukan beberapa terobosan secara hati-hati dan meminimalisir kendala yang terjadi selama proses pembelajaran berlangsung. Melalui metode pembelajaran yang lebih efektif dengan menentukan materi pembelajaran yang mana yang lebih diutamakan (esensial), dan aplikasi apa saja yang tepat untuk digunakan serta bahan ajar yang mudah diakses oleh siswa. Baik kesiapannya dalam pembelajaran luring maupun daring. Guru memberikan pembelajaran harus menyesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki siswa melalui inovasi dan kolaborasi yang dilakukannya. 

Bagaimana dengan materi pembelajaran PPKn, dan metode pembelajaran apa yang digunakan pada masa protokol kesehatan yang ketat ini? Semua itu membutuhkan penyesuaian dan mengikuti langkah-langkah yang sudah digariskan oleh pemerintah. Dalam hal matode pembelajaran PPKn, biasanya pada materi tertentu siswa diminta untuk membentuk kelompok diskusi. Nah diskusi kelompok ini masih dapat dilakukan melalui pembelajaran daring, jika pembelajaran luring tidak memungkinkan.


Jakarta, 31 Juli 2020

Nadiyah

Dimuat dalam Antologi Guru Menulis KMA OP 23


Thursday, July 30, 2020

PEMBELAJARAN DARING DAN PROBEMATIKANYA

Hal utama diberlakukannya pembelajaran daring di mana siswa belajar di rumah adalah untuk menghindari terjadinya penyebaran wabah Covid-19. Akan tetapi ke depan model pembelajaran ini akan menjadi tren yang tak dapat kita hindari. Menurut penulis ada beberapa keuntungannya yakni, pembelajaran daring lebih fleksibel dan menghemat waktu. Guru dan siswa tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, kapan pun mereka dapat mengakses dan melakukan aktivitasnya dengan cepat.

Guru dapat memberikan materi ajar secara streaming, guru menentukan jadwal live nya di youtube (dapat juga dilakukan melalui telekonferensi melalui zoom, google meet, cisco webex meetings atau lainnya). Dan siswa dapat mengikuti dengan tidak harus berada di satu ruang kelas secara bersamaan. Kapan pun dan di mana pun siswa dengan mudah dapat mengikuti pembelajaran. Begitu pula sebaliknya, bagi siswa yang tidak dapat mengikuti pembelajaran secara streaming, dapat menggunakan akses setelahnya dalam bentuk rekaman.

Keuntungan lainnya dapat meningkatkan kemampuan dibidang teknologi. Pembelajaran ini juga memberikan akses yang begitu luas bagi siapa pun termasuk guru dan siswa. Sumber pembelajaran dapat diperoleh lebih banyak, dengan menggunakan aplikasi yang bervarian, sehingga kemajuan teknologi dapat digunakan secara maksimal. Selain itu siswa akan lebih banyak memperoleh dan mengolah informasi dari berbagai sumber. Yang pada akhirnya nanti dapat menunjang proses pembelajaran. Hanya dengan satu klik bahan ajar yang diperlukan melalui mesin pencarian google atau sejenisnya, dalam hitungan detik sumber informasi yang dibutuhkan akan cepat dapat diperoleh.

Selain itu hal yang tidak kalah menariknya adalah siswa juga menjadi lebih kreatif dan nyaman dalam menyelesaikan tugasnya, dapat mengkondisikan diri tanpa aturan yang formal (rigid). Siswa dapat mandiri dan bertanggungjawab atas apa yang menjadi kewajibannya. Umumnya siswa yang kreatif akan senang apabila guru memberikan kebebasan dalam menentukan media atau aplikasi apa yang nantinya akan digunakan untuk melaksanakan tugas-tugas yang akan dikerjakannya. Kebebasan ini dapat melahirkan inovasi yang lebih menarik dan berkesinambungan.

Namun pembelajaran daring ini juga memiliki beberapa kerugian diantaranya, siswa membutuhkan ektra kuota internet. Yang berarti orang tua harus menyediakan biaya lebih. Tidaklah mudah ketika menghadapi kondisi seperti ini ekses dari Covid-19 dapat menimbulkan masalah yang cukup kompleks, baik bagi siswa maupun orang tua. Perlu ada penyelesaian yang konferenship sehingga ketidaknyamanan dalam belajar dapat diminimalisir.

Peranan sekolah dan komite sangat diperlukan dalam memfasilitasi apa yang dibutuhkan oleh siswa yang kurang mampu melalui donasi atau subsidi sehingga dapat tercover, siswa dapat mengikuti proses pembelajaran dengan baik. Sebagaimana hal ini terjadi pada MTs Negeri 6 ketika memasuki Penilaian Akhir Tahun (PAT) sebulan lalu.

Hal lain yang sering dihadapi dalam pembelajaran daring adalah gawai yang digunakan sewaktu-waktu dapat bermasalah atau server error, jaringan lemot. Ini akan menghambat proses penyelesaian pembelajaran tepat waktu. Persiapan yang matang juga tidak cukup, tidak hanya disebabkan oleh kesalahan manusiannya (human error) tetapi penyebab lainnya juga perlu diantisipasi melalui alternatif solusi yang ditawarkan.

Selain itu siswa akan cepat bosan. Dalam proses pembelajaran sebenarnya yang dibutuhkan adalah interaksi yang hidup dan intens antara guru dan siswa (siswa dengan siswa) sehingga terjalin ikatan emosional yang sehat dan kuat. Sehingga hal ini sangat berpengaruh terhadap penghargaan dan penghormatan terhadap guru, dan juga kesiapan mental dari siswa itu sendiri yang akan berdampak pada prestasi dan kemampuannya dalam mengikuti proses pembelajaran secara tuntas.

Akhirnya penulis berharap kepada pihak pembuat kebijakan perlu berhati-hati dalam pengambilan keputusan, ke depannya penggunaan pembelajaran daring tidak terbatas hanya persoalan pandemik tapi sebagai sebuah tuntutan yang tak dapat dihindari. Suka atau tidak model pembelajaran ini akan menjadi bagian yang terintegrasi dalam dunia pendidikan kita. Dibutuhkan pembenahan sistem pendidikan yang radikal, yang akan berpengaruh pada pengembangan pendidikan kita ke depan.

 Jakarta, 30 Juli 2020

Nadiyah

Dimuat dalam Antologi Guru Menulis KMA OP 22


Wednesday, July 29, 2020

E-LEARNING MADRASAH DAN SISTEM PEMBELAJARAN DARING

 The true teacher is the learner!  Jauh sebelum adanya bencana nasional Covid-19, pembelajaran jarak jauh atau daring 3-4 tahun yang lalu, penulis sebagai guru mengikuti berbagai kursus online yang diselenggarakan oleh lembaga swasta atau atas inisiatif beberapa rekan dari berbagai lembaga pendidikan. Ada satu alasan utama yang mengemuka, keterbatasan waktu yang dimiliki oleh guru. Sementara guru dituntut untuk meningkatkan kompetensinya untuk menjadi guru yang profesional, dan dalam rangka menghadapi kemajuan teknologi di dunia pendidikan khususnya IT yang perkembangannya begitu massif.

Kesiapan satu langkah ke depan yang dilakukan oleh penulis ternyata memberikan berkah tersendiri. Menguasaan IT dalam dunia pendidikan sebagai suatu keharusan, sehingga penulis tidak gagap dalam menghadapi perubahan yang begitu cepat, dan tentu pembelajaran akan tampak begitu menarik dengan menggunakan berbagai sumber dan model. Ditambah situasi dan kondisi mewabahnya Covid-19 yang kita tidak tahu kapan akan segera berakhir. Menuntut penulis untuk tetap memberikan pembelajaran, tanpa harus bertatap muka secara langsung. Sehingga pembelajaran daring menjadi pilihan yang tepat saat ini.

Pembelajaran daring adalah pembelajaran yang dilakukan tanpa melakukan tatap muka melalui platform yang telah tersedia. Banyak hal yang dapat dilakukan melalui pembelajaran model daring ini, beragam cara dapat diterapkan untuk menjadikan metode pembelajaran lebih efektif, misalnya melalui video conference agar proses belajar mengajar dapat terjadi dua arah, entah menggunakan Zoom, Google Meet, Webex atau aplikasi lainnya. Dan tentu lebih fleksibel, dapat dilakukan kapan dan dimana saja, seperti Edmodo yang sebelumnya penulis gunakan untuk mengintegrasikan segala aktivitas belajar mengajar, yang banyak memudahkan siswa dalam menjangkau materi pembelajaran dari guru.

Meskipun belum dapat dikatakan efisien, karena harus sesuai kemampuan orang tua, sistem pembelajaran ini sedikit banyak akan menguras kuota orang tua siswa. Memang sistem daring ini tidak melulu menggunakan 100 % online, tetapi dapat dilakukan melalui berbagai varian. Pengumpulan dan pemberian tugas atau materi dapat dilakukan melalui Whatsapp, e-mail atau media lainnya.

Bagaimana dengan kesiapan MTs Negeri 6 dalam menghadapi pandemik Covid-19, yang memaksa guru dan siswa harus dapat beradaptasi melalui pembelajaran menggunakan sistem daring ini? Beruntung adanya kesigapan baik dari pengambil kebijakan dalam hal ini Kementerian Agama (Bidang Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan Madrasah) dan Kepala Madrasah MTs Negeri 6, masalah pembelajaran daring ini dapat diatasi dengan baik melalui E-Learning Madrasah. Meskipun sebelumnya, guru baik secara mandiri maupun kolektif meyelenggarakan sistem daring ini dengan berbagai macam aplikasi yang digunakan (Google Class, Edmodo, padlet, quizizz).

Bagaimana cara kerja E-Learning Madrasah? Dari berbagai sumber yang penulis rangkum, sebagaimana yang disampaikan oleh Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Kemenag, A. Umar bahwa untuk dapat mengunduh aplikasi E-Learning Madrasah, user harus terlebih dahulu melakukan log in sebagai operator madrasah (operator dapat mengunduh pada link https://elearning. kemenag.go.id/). Dalam proses itu, user harus mengunggah Surat Keputusan (SK) sebagai salah satu syarat utama mendapatkan aplikasi E-Learning Madrasah. Setelah SK berhasil diunggah, operator harus menunggu SK tersebut disetujui oleh tim dari Direktorat KSKK Madrasah. Jika SK sudah disetujui, Operator akan diberikan akses untuh mengunduh Aplikasi e-Learning Madrasah.

Selain siswa, lima user lainnya yang dapat mengakses E–Learning Madrasah adalah Operator Madrasah, guru mata pelajaran, guru bimbingan konseling, wali kelas dan kepala madrasah. Masing-masing memiliki user sendiri untuk masuk ke dalam aplikasi E-Learning Madrasah. Terdapat berbagai fitur dalamnya, yang masing-masing memiliki fungsinya, diantaranya Kelas Online yang berisi konten mulai dari awal proses pembelajaran, pembuatan standar kompetensi, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), materi pembelajaran, jurnal guru, pengolahan penilaian harian, ujian berbasis komputer (CBT) hingga pengolahan nilai rapor.

Selain itu  terdapat juga konten Guru Berbagi yang merupakan platform yang akan menampung kreatifitas guru madrasah di seluruh Indonesia untuk saling berbagi informasi apa pun yang bermanfaat, dan Forum Komunitas Madrasah agar siswa dan guru dapat dengan mudah berbagi ide dan membuka forum diskusi karena di dalamnya terdapat media sosial untuk saling berkomunikasi antara guru dan siswa. User juga dapat saling berkomentar dan berbagi ide atau gagasan dalam fitur chat.

Jakarta, 30 April 2020

Nadiyah
Dimuat dalam Antologi Guru Menulis 21