Education Quotes

Jendela

Thursday, August 27, 2020

PJJ DAN KEPRIHATINAN KITA

Selama belum berakhirnya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) transisi dalam menghadapi pandemi Covid-19, maka tatap muka dalam pembelajaran di sekolah belum akan dimulai. Meski saat ini dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Bersama 4 Menteri (Mendikbud, Menag, Menkes, Mendagri) tentang perubahan atas keputusan bersama sebelumnya Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran TP. 2020/2021 dan TA.2020/2021 di Masa Pandemi Covid-19 belumlah menjamin pelaksanaan pembelajaran berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan.

Ada begitu banyak keprihatinan terhadap berbagai macam persoalan yang dihadapi oleh siswa dan orang tua selama PJJ, begitu juga dengan guru. Mungkin berbagai macam pengalaman yang terjadi baik yang mengharukan, lucu, menarik, membuat diri ini merenung, tidak hanya membuat aku semakin memahami kebutuhan dan kesulitan para siswa ketika mereka melakukan pembelajaran jarak jauh, yang di mulai pada pertengahan bulan Maret. Dan ini juga akan menjadi kenangan dan catatan berharga di kemudian hari.

Awalnya para siswa begitu antusias dalam menerima materi pembelajaran yang diberikan oleh setiap guru, maklum masih baru. Belum mengetahui atau kurang mengerti tentang apa itu PJJ. Tibalah pada saat penyerahan tugas, ternyata ada beberapa siswa yang tidak dapat menyerahkan tugas tepat waktu. Dan itu terjadi berulang kali, tidak hanya dua atau tiga mata pelajaran bahkan hampir semua mata pelajaran. Dan ini juga terjadi di semua level kelas.

Tentu sebagai guru sekaligus wali kelas, aku pun mencari tahu apa yang terjadi. Ternyata ada beberapa siswa yang tidak memiliki gawai, kalau pun ada mereka tidak memiliki kuota yang cukup. Selain itu jangankan untuk memikirkan bagaimana belajar dan mengerjakan tugas dengan baik, kondisi mereka pun juga memprihatinkan akibat rumah yang mereka tempati diterjang banjir.

“Maaf bu, Lisa (bukan nama sebenarnya) hand phonenya tidak ada internetnya. Jadi dia tidak bisa mengerjakan tugas. Selama ini tugas dikirim melalui hand phone kakaknya”. Suara dikejauhan menjelaskan tentang keadaan putrinya yang tidak bisa mengirimkan tugasnya tepat waktu. Atau bagaimana kalau kakaknya juga tidak punya pulsa? Sementara dirinya juga tidak bekerja? Berbagai pertanyaan bertubi-tubi pada akhirnya muncul di kepala. Sungguh berat problem yang dihadapi orang tua siswa di masa pandemi ini. Belum lagi upaya keras yang harus aku lakukan sebagai wali kelas ketika berhadapan dengan guru pengampu mata pelajaran lainnya. Itu baru satu siswa, belum lagi masalah yang dihadapi oleh beberapa siswa lainnya tentu berbeda pula penanganannya.

Di tengah keprihatinan, ternyata masih ada hal positif yang dapat kutemukan. Ada beberapa siswa yang begitu gigih untuk mengikuti pembelajaran dan menyelesaikan tugas-tugasnya tepat waktu. Mereka tidak bosan untuk bertanya melalui whatsapp setiap hari, saat pagi ketika di mulainya pembelajaran, menjelang siang bahkan sampai malam hari. Yang terkait dengan materi pembelajaran yang tidak dimengerti atau hanya sekedar masalah teknis ketika menyerahkan tugas. Terkadang karena keterbatasan kuota, aku pun dengan senang hati membantu mengupload beberapa tugas siswa ke aplikasi e-learning madrasah sebagai bentuk tanggung jawab bahwa siswa telah mengerjakan tugasnya dengan baik.

“Bu Nadiyah, saya sudah beberapa kali mencoba upload tugas ke Penilaian Ketrampilan KI 4. Kok belum bisa terkirim ya? Ini sudah beberapa kali, bu”.  Aku merasakan nada putus asa teks yang dikirimkannya, dan aku pun tanpa ragu kemudian membalas smsnya : “Ya silahkan kirim file tugasnya, username dan passwords, nti bu Nad bantu”. Tidak lama kemudian hanya butuh dua tiga menit file tugasnya sudah dapat diupload dan terkirim. Dan sebagai guru, aku pun merasakan seutas senyum mengembang di kejauhan.

 

Nadiyah
27 Agustus 2020
Dimuat dalam Antologi Pendidikan 24


Friday, July 31, 2020

TAHUN AJARAN BARU, “KURIKULUM BARU”

Setelah memasuki dan melewati beberapa fase dalam penanganan Covid-19, dan kini menghadapi protokol kesehatan yang begitu ketat. Pertanyaan yang pertama kali muncul di kepala adalah apa yang harus dilakukan oleh guru dalam pembelajaran daring maupun pembelajaran tatap muka tentang perihal ketercapaian kurikulum dalam kondisi seperti ini?

Ternyata ada beberapa penyesuaian yang penting yang harus dilakukan oleh guru terutama dalam perihal ketercapaian kurikulum. Di sini dibutuhkan fleksibilitas dalam menghadapi tahun ajaran baru, yang semuanya serba baru. Perangkat lama yang ada disederhanakan, dijalankan mengikuti kondisi yang dihadapi, suka atau tidak. Sebagaimana diketahui bahwa pembelajaran dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat masih mengalami perbedaan persepsi.

Belum lagi jeritan dari berbagai penjuru, terutama bagi orang tua siswa yang kemampuan penghasilannya juga terbatas, bahkan mungkin tak ada sama sekali. Akan juga mempengaruhi keterlaksanaanya proses pembelajaran yang tidak hanya merugikan siswa, tetapi berdampak pada ketercapaian kurikulum dan tujuan pendidikan.

Yang perlu diperhatikan oleh guru, pertama adanya kebijakan yang mendukung upaya terlaksananya pendidikan yang sesuai di masa darurat ini, menjadikan guru dapat mengambil langkah-langkah yang diperlukan, yang nantinya tidak akan mengganggu proses pembelajaran dan ketercapaiannya kurikulum, juga dapat mengurangi beban kerja siswa dan guru itu sendiri. Dalam hal pendidikan di madrasah, dimana saya ada di dalamnya, pemerintah melalui Kementerian Agama melalui Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Nomor 2791 Tahun 2020, tertanggal 18 Mei 2020. Telah memberikan panduan berupa pedoman bagi setiap satuan pendidikan untuk dapat menyiapkan kurikulum, yang nantinya proses belajar dari rumah ini lebih menekankan pada pengembangan karakter, akhlak mulia, ubudiyah dan kemandirian siswa, dengan juga tetap memperhatikan pemenuhan aspek kompetensi, baik dasar maupun inti.

Kedua, penyederhanaan kurikulum yang dilakukan oleh pemerintah saja ternyata tidaklah cukup. Meskipun guru tetap tidak diwajibkan untuk mengejar ketuntasan ketercapaian kurikulum. Guru sebagai eksekutor di lapangan harus mampu menderivasikan dan melakukan beberapa terobosan secara hati-hati dan meminimalisir kendala yang terjadi selama proses pembelajaran berlangsung. Melalui metode pembelajaran yang lebih efektif dengan menentukan materi pembelajaran yang mana yang lebih diutamakan (esensial), dan aplikasi apa saja yang tepat untuk digunakan serta bahan ajar yang mudah diakses oleh siswa. Baik kesiapannya dalam pembelajaran luring maupun daring. Guru memberikan pembelajaran harus menyesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki siswa melalui inovasi dan kolaborasi yang dilakukannya. 

Bagaimana dengan materi pembelajaran PPKn, dan metode pembelajaran apa yang digunakan pada masa protokol kesehatan yang ketat ini? Semua itu membutuhkan penyesuaian dan mengikuti langkah-langkah yang sudah digariskan oleh pemerintah. Dalam hal matode pembelajaran PPKn, biasanya pada materi tertentu siswa diminta untuk membentuk kelompok diskusi. Nah diskusi kelompok ini masih dapat dilakukan melalui pembelajaran daring, jika pembelajaran luring tidak memungkinkan.


Jakarta, 31 Juli 2020

Nadiyah

Dimuat dalam Antologi Guru Menulis KMA OP 23


Thursday, July 30, 2020

PEMBELAJARAN DARING DAN PROBEMATIKANYA

Hal utama diberlakukannya pembelajaran daring di mana siswa belajar di rumah adalah untuk menghindari terjadinya penyebaran wabah Covid-19. Akan tetapi ke depan model pembelajaran ini akan menjadi tren yang tak dapat kita hindari. Menurut penulis ada beberapa keuntungannya yakni, pembelajaran daring lebih fleksibel dan menghemat waktu. Guru dan siswa tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, kapan pun mereka dapat mengakses dan melakukan aktivitasnya dengan cepat.

Guru dapat memberikan materi ajar secara streaming, guru menentukan jadwal live nya di youtube (dapat juga dilakukan melalui telekonferensi melalui zoom, google meet, cisco webex meetings atau lainnya). Dan siswa dapat mengikuti dengan tidak harus berada di satu ruang kelas secara bersamaan. Kapan pun dan di mana pun siswa dengan mudah dapat mengikuti pembelajaran. Begitu pula sebaliknya, bagi siswa yang tidak dapat mengikuti pembelajaran secara streaming, dapat menggunakan akses setelahnya dalam bentuk rekaman.

Keuntungan lainnya dapat meningkatkan kemampuan dibidang teknologi. Pembelajaran ini juga memberikan akses yang begitu luas bagi siapa pun termasuk guru dan siswa. Sumber pembelajaran dapat diperoleh lebih banyak, dengan menggunakan aplikasi yang bervarian, sehingga kemajuan teknologi dapat digunakan secara maksimal. Selain itu siswa akan lebih banyak memperoleh dan mengolah informasi dari berbagai sumber. Yang pada akhirnya nanti dapat menunjang proses pembelajaran. Hanya dengan satu klik bahan ajar yang diperlukan melalui mesin pencarian google atau sejenisnya, dalam hitungan detik sumber informasi yang dibutuhkan akan cepat dapat diperoleh.

Selain itu hal yang tidak kalah menariknya adalah siswa juga menjadi lebih kreatif dan nyaman dalam menyelesaikan tugasnya, dapat mengkondisikan diri tanpa aturan yang formal (rigid). Siswa dapat mandiri dan bertanggungjawab atas apa yang menjadi kewajibannya. Umumnya siswa yang kreatif akan senang apabila guru memberikan kebebasan dalam menentukan media atau aplikasi apa yang nantinya akan digunakan untuk melaksanakan tugas-tugas yang akan dikerjakannya. Kebebasan ini dapat melahirkan inovasi yang lebih menarik dan berkesinambungan.

Namun pembelajaran daring ini juga memiliki beberapa kerugian diantaranya, siswa membutuhkan ektra kuota internet. Yang berarti orang tua harus menyediakan biaya lebih. Tidaklah mudah ketika menghadapi kondisi seperti ini ekses dari Covid-19 dapat menimbulkan masalah yang cukup kompleks, baik bagi siswa maupun orang tua. Perlu ada penyelesaian yang konferenship sehingga ketidaknyamanan dalam belajar dapat diminimalisir.

Peranan sekolah dan komite sangat diperlukan dalam memfasilitasi apa yang dibutuhkan oleh siswa yang kurang mampu melalui donasi atau subsidi sehingga dapat tercover, siswa dapat mengikuti proses pembelajaran dengan baik. Sebagaimana hal ini terjadi pada MTs Negeri 6 ketika memasuki Penilaian Akhir Tahun (PAT) sebulan lalu.

Hal lain yang sering dihadapi dalam pembelajaran daring adalah gawai yang digunakan sewaktu-waktu dapat bermasalah atau server error, jaringan lemot. Ini akan menghambat proses penyelesaian pembelajaran tepat waktu. Persiapan yang matang juga tidak cukup, tidak hanya disebabkan oleh kesalahan manusiannya (human error) tetapi penyebab lainnya juga perlu diantisipasi melalui alternatif solusi yang ditawarkan.

Selain itu siswa akan cepat bosan. Dalam proses pembelajaran sebenarnya yang dibutuhkan adalah interaksi yang hidup dan intens antara guru dan siswa (siswa dengan siswa) sehingga terjalin ikatan emosional yang sehat dan kuat. Sehingga hal ini sangat berpengaruh terhadap penghargaan dan penghormatan terhadap guru, dan juga kesiapan mental dari siswa itu sendiri yang akan berdampak pada prestasi dan kemampuannya dalam mengikuti proses pembelajaran secara tuntas.

Akhirnya penulis berharap kepada pihak pembuat kebijakan perlu berhati-hati dalam pengambilan keputusan, ke depannya penggunaan pembelajaran daring tidak terbatas hanya persoalan pandemik tapi sebagai sebuah tuntutan yang tak dapat dihindari. Suka atau tidak model pembelajaran ini akan menjadi bagian yang terintegrasi dalam dunia pendidikan kita. Dibutuhkan pembenahan sistem pendidikan yang radikal, yang akan berpengaruh pada pengembangan pendidikan kita ke depan.

 Jakarta, 30 Juli 2020

Nadiyah

Dimuat dalam Antologi Guru Menulis KMA OP 22


Wednesday, July 29, 2020

E-LEARNING MADRASAH DAN SISTEM PEMBELAJARAN DARING

 The true teacher is the learner!  Jauh sebelum adanya bencana nasional Covid-19, pembelajaran jarak jauh atau daring 3-4 tahun yang lalu, penulis sebagai guru mengikuti berbagai kursus online yang diselenggarakan oleh lembaga swasta atau atas inisiatif beberapa rekan dari berbagai lembaga pendidikan. Ada satu alasan utama yang mengemuka, keterbatasan waktu yang dimiliki oleh guru. Sementara guru dituntut untuk meningkatkan kompetensinya untuk menjadi guru yang profesional, dan dalam rangka menghadapi kemajuan teknologi di dunia pendidikan khususnya IT yang perkembangannya begitu massif.

Kesiapan satu langkah ke depan yang dilakukan oleh penulis ternyata memberikan berkah tersendiri. Menguasaan IT dalam dunia pendidikan sebagai suatu keharusan, sehingga penulis tidak gagap dalam menghadapi perubahan yang begitu cepat, dan tentu pembelajaran akan tampak begitu menarik dengan menggunakan berbagai sumber dan model. Ditambah situasi dan kondisi mewabahnya Covid-19 yang kita tidak tahu kapan akan segera berakhir. Menuntut penulis untuk tetap memberikan pembelajaran, tanpa harus bertatap muka secara langsung. Sehingga pembelajaran daring menjadi pilihan yang tepat saat ini.

Pembelajaran daring adalah pembelajaran yang dilakukan tanpa melakukan tatap muka melalui platform yang telah tersedia. Banyak hal yang dapat dilakukan melalui pembelajaran model daring ini, beragam cara dapat diterapkan untuk menjadikan metode pembelajaran lebih efektif, misalnya melalui video conference agar proses belajar mengajar dapat terjadi dua arah, entah menggunakan Zoom, Google Meet, Webex atau aplikasi lainnya. Dan tentu lebih fleksibel, dapat dilakukan kapan dan dimana saja, seperti Edmodo yang sebelumnya penulis gunakan untuk mengintegrasikan segala aktivitas belajar mengajar, yang banyak memudahkan siswa dalam menjangkau materi pembelajaran dari guru.

Meskipun belum dapat dikatakan efisien, karena harus sesuai kemampuan orang tua, sistem pembelajaran ini sedikit banyak akan menguras kuota orang tua siswa. Memang sistem daring ini tidak melulu menggunakan 100 % online, tetapi dapat dilakukan melalui berbagai varian. Pengumpulan dan pemberian tugas atau materi dapat dilakukan melalui Whatsapp, e-mail atau media lainnya.

Bagaimana dengan kesiapan MTs Negeri 6 dalam menghadapi pandemik Covid-19, yang memaksa guru dan siswa harus dapat beradaptasi melalui pembelajaran menggunakan sistem daring ini? Beruntung adanya kesigapan baik dari pengambil kebijakan dalam hal ini Kementerian Agama (Bidang Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan Madrasah) dan Kepala Madrasah MTs Negeri 6, masalah pembelajaran daring ini dapat diatasi dengan baik melalui E-Learning Madrasah. Meskipun sebelumnya, guru baik secara mandiri maupun kolektif meyelenggarakan sistem daring ini dengan berbagai macam aplikasi yang digunakan (Google Class, Edmodo, padlet, quizizz).

Bagaimana cara kerja E-Learning Madrasah? Dari berbagai sumber yang penulis rangkum, sebagaimana yang disampaikan oleh Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Kemenag, A. Umar bahwa untuk dapat mengunduh aplikasi E-Learning Madrasah, user harus terlebih dahulu melakukan log in sebagai operator madrasah (operator dapat mengunduh pada link https://elearning. kemenag.go.id/). Dalam proses itu, user harus mengunggah Surat Keputusan (SK) sebagai salah satu syarat utama mendapatkan aplikasi E-Learning Madrasah. Setelah SK berhasil diunggah, operator harus menunggu SK tersebut disetujui oleh tim dari Direktorat KSKK Madrasah. Jika SK sudah disetujui, Operator akan diberikan akses untuh mengunduh Aplikasi e-Learning Madrasah.

Selain siswa, lima user lainnya yang dapat mengakses E–Learning Madrasah adalah Operator Madrasah, guru mata pelajaran, guru bimbingan konseling, wali kelas dan kepala madrasah. Masing-masing memiliki user sendiri untuk masuk ke dalam aplikasi E-Learning Madrasah. Terdapat berbagai fitur dalamnya, yang masing-masing memiliki fungsinya, diantaranya Kelas Online yang berisi konten mulai dari awal proses pembelajaran, pembuatan standar kompetensi, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), materi pembelajaran, jurnal guru, pengolahan penilaian harian, ujian berbasis komputer (CBT) hingga pengolahan nilai rapor.

Selain itu  terdapat juga konten Guru Berbagi yang merupakan platform yang akan menampung kreatifitas guru madrasah di seluruh Indonesia untuk saling berbagi informasi apa pun yang bermanfaat, dan Forum Komunitas Madrasah agar siswa dan guru dapat dengan mudah berbagi ide dan membuka forum diskusi karena di dalamnya terdapat media sosial untuk saling berkomunikasi antara guru dan siswa. User juga dapat saling berkomentar dan berbagi ide atau gagasan dalam fitur chat.

Jakarta, 30 April 2020

Nadiyah
Dimuat dalam Antologi Guru Menulis 21

Tuesday, April 28, 2020

GURU DAN KEDISIPLINAN SISWA


Saya, guru pengatur lalu lintas udara! Apa yang akan dilakukan oleh guru, andai ia sebagai pengatur lalu lintas udara (istilah ini digunakan oleh Eka Wardana dalam tema kelas ini)? Tentu yang guru lakukan adalah berusaha agar semua berada pada jalurnya dan mencegah terjadinya benturan antara aturan yang satu dengan lainnya, perilaku yang tidak sesuai atau sesuai dengan nilai atau moral di lingkungan di mana ia berada. Hal ini di dasari oleh apa pun yang dilakukan sesuai dijalurnya akan tampak begitu indah. Keteraturan mampu menumbuhkan kedisiplinan bagi siapa pun juga, termasuk di dalamnya siswa, anggota masyarakat di lingkungan sekolah, dan tentunya juga bagi guru itu sendiri.

Guru dan anggota masyarakat sekolah dapat memberikan contoh yang baik bagi siswa. Bagi guru tidak ada kata lelah dalam mengingatkan siswanya, untuk selalu membuang sampah pada tempatnya. Membiasakan diri untuk makan makanan sehat yang sesuai dengan standar menu sehat. Dan tak akan bosan menekankan kepada siswanya untuk giat belajar dan tak lupa berdoa setiap kali melakukan aktivitas.

Sebagai pengatur lalu lintas udara, tentu guru menjadi a role of model. Ini akan mempermudah siswa atau siapa pun untuk melihat “The Big Picture” dari gambaran baik secara keseluruhan tentang diri seorang guru. Seseorang yang perilakunya, dedikasinya atau keberhasilannya dapat menjadi contoh atau panutan bagi orang lain, terutama siswa dan rekan kerja atau lingkungannya.  Seseorang yang mungkin memiliki dampak yang besar bagi anak didiknya di kemudian hari, karena sebelumnya ia mampu membangun hubungan emosional yang kuat. A role of model adalah sebuah gambaran ideal yang diinginkan untuk masa depan.

Ada suatu cerita ketika saya duduk di tingkat madrasah aliyah. Suatu kebiasaan unik yang saya lakukan, yaitu mengamati satu persatu ketika guru saya mengajar. Meskipun pada waktu itu saya sama sekali tidak tertarik atau bercita-cita menjadi seorang guru. Yang ternyata di kemudian hari menjadi a role of model bagi pribadi saya, begitu berkesan. Dan saya pun berpikir, bisa saja hal ini juga terjadi pada diri siswa di lingkungan saya mengajar. Mereka akan mengamati, apakah saya menguasai materi ketika mengajar, lemah lembut ketika menghadapi perkara yang mereka terlibat di dalamnya. Atau mampu mengatasi persoalan-persoalan yang dihadapi oleh orang tua dan siswa dengan melalui keputusan yang bijaksana.

Begitu juga ketika guru sebagai katalisator, ia harus mampu menjaga dan berupaya melakukan pendampingan kepada siswanya sehingga program-program yang sudah dicanangkan oleh pihak sekolah dapat cepat terlaksana dengan baik.

Istilah katalisator ini menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah seseorang atau sesuatu yang menyebabkan terjadinya perubahan dan menimbulkan kejadian baru atau mempercepat suatu peristiwa.  Jadi guru katalisator (Kompasiana, 6 Mei 2017) adalah guru yang mampu melakukan perubahan mindset (cara pandang), thinking way (cara pikir), dan action way (cara bertindak) secara cepat terhadap tuntutan zaman tanpa terjerumus dan terbawa arus pengaruh-pengaruh negatifnya.

Selain itu guru juga dapat sebut sebagai artis. Julukan ini tidaklah berlebihan, karena guru juga memiliki “fans” nya sendiri. Performa yang ditampilkan oleh guru terutama dalam  hal berpakaian juga  menjadi perhatian penuh bagi siswa. Dimulai dari pakaian yang dikenakan. Serasi atau tidak, pantas atau tidak pantas, dan alas kaki, sepatu yang ia kenakan. Jadi bukan hanya siswa yang dituntut harus berpenampilan baik sesuai dengan tata tertib sekolahnya.

Contoh kecil adalah sepatu yang saya kenakan. Pernah suatu hari ketika saya mengajar di sekolah kejuruan pelayaran swasta di Jakarta. Seperti biasa saya berpakaian rapi sesuai dengan standar berpakaian yang baik, dengan mengenakan stelan blazer. Tiba-tiba ada seorang taruna menjulurkan kakinya yang bersepatu hitam mengkilap (saya tahu sepatunya baru disemir), bersebelahan dengan sepatu yang saya kenakan. “Lihat tuh bu, mengkilap mana dengan sepatu saya”. Upps! Saya pun tersadar bahwa sepatu yang saya pakai tampak kusam, belum sempat disemir hanya saya lap saja tadi pagi. Saya pun hanya tersenyum memandangi wajahnya.

Nadiyah, Februari 2020
Dimuat dalam Antologi KMA-OP 19
      

Friday, March 27, 2020

UN (UJIAN NASIONAL) DAN IMPLIKASINYA


Dunia pendidikan dihebohkan oleh pernyataan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim. Tentang upaya penghapusan Ujian Nasional diawal masa jabatannya sebagai menteri, yang disampaikan pada saat Rapat Koordinasi bersama Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten/Kota Se-Indonesia di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Rabu (detiknews, 11/12/2019). Menurutnya UN 2020 akan tetap dilaksanakan dengan format lama dan menjadi UN yang terakhir. Statement ini menjadi bola panas, sehingga muncul berbagai tanggapan pro dan kontra terhadap wacana ini.

Berbagai tanggapan dilakukan oleh tokoh-tokoh nasional atau pendidikan, termasuk di dalamnya mantan ketua Muhammadiyah, buya Syafii Maarif dan Jusuf Kalla. Dan bagaimana menurut perfektif saya sebagai guru menanggapi hal ini?

Ada dua hal yang perlu digaris bawahi, sesuai amanat konstitusi bahwa pendidikan adalah hak setiap warga negara. Untuk itu perlu dibuat format yang jelas dan terarah dengan tidak mengenyamping apa yang menjadi hak dan kewajiban bagi warga negara. Persaingan global tidak bisa kita abaikan begitu saja, sehinga disini pemerintah melalui menterinya dapat mendisain kembali hal-hal mana yang sesuai, dan mana yang tidak.

Mengenai  UN yang akan diubah jadi Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter nantinya, perlu diuraikan lebih jauh. Sehingga perubahan ini tidak menjadi beban baru bagi guru ke depan. Sebagaimana diketahui bahwa Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) tidak lagi berdasarkan mata pelajaran melainkan literasi dan numerasi. Literasi yang dimaksudkan adalah kemampuan menganalisis suatu bacaan serta kemampuan untuk mengerti atau memahami konsep di balik tulisan tersebut. Sedangkan numerasi adalah kemampuan menganalisis menggunakan angka. Selain itu, ada Survei Karakter, yang menekankan pada penguatan pendidikan karakter.

Selanjutnya semua perubahan itu tidak dilakukan di akhir jenjang sekolah seperti Ujian Nasional, melainkan di tengah jenjang. Itu berarti mulai 2021, asesmen ini diadakan saat kelas IV SD dan bukan kelas VI SD, kelas VIII SMP dan bukan kelas IX SMP, juga kelas XI SMA bukan kelas XII SMA. Tentu perubahan ini menurut penulis nantinya akan memberikan implikasi yang begitu luas bagi dunia pendidikan dan masa depan bangsa.

Kedua, ada atau tidak UN (Ujian Nasional), pada kenyataannya memang belum mampu menjawab permasalahan yang sudah ada dan menahun. Selama ini UN hanya dijadikan sekedar formalitas, sehingga hasilnya pun belum optimal kita rasakan. Karena UN yang sudah berlangsung hampir 10 tahun dinilai tidak berjalan sesuai fungsinya, adanya UN membuat mata pelajaran yang diberikan kepada peserta didik menjadi berkasta (berkelas).

Semula UN bertujuan sebagai poin untuk pemetaan dan perbaikan kualitas pendidikan. Pada kenyataannya UN hanya menjadi penentu kelulusan siswa. Ini berarti perubahan yang dilakukan oleh pemerintah melalui menteri Pendidikan dan Kebudayaan merupakan loncatan besar. Keputusan ini menjadi catatan sejarah penting bagi dunia pendidikan di Indonesia, yang diharapkan membawa perubahan yang lebih berarti, bukan hanya sekedar basa-basi apalagi sebagai kelinci percobaan. Kalau hal itu dilakukan banyak hal yang nantinya dikorbankan, maka dibutuhkan kajian secara menyeluruh.

Sebagai catatan, apapun keputusan yang dilakukan oleh pemerintah, menjadi perhatian kita bersama. Pendidikan sebagai langkah awal untuk membangun peradaban suatu bangsa, yang di dalamnya berkaitan dengan kelangsungan kehidupan bersama. Jangan sampai itu menjadi beban baru bagi peserta didik,  orang tua dan guru serta masyarakat. Kita pun berharap format yang nantinya dibuat harus disesuaikan dengan stakehorder dan yang juga penting adalah mampu menjawab tantangan global,  sehingga menjadikan UN dan perubahannya lebih dipahami sebagai bagian untuk mencerdaskan kehidupan anak bangsa.


Nadiyah, Januari 2020

Dipublikasikan dalam Buku Antologi KMA-OP 18

Friday, January 10, 2020

GURU SENANG, SISWA PUN SENANG



“It is the supreme art of the teacher to awaken joy in creative expression and knowledge.“
~Albert Einstein

Menciptakan kelas yang menyenangkan merupakan impian bagi kita sebagai guru dan juga siswa. Diskursus mengenai kelas menyenangkan banyak ditawarkan dalam berbagai artikel, buku dan berbagai sumber lainnya. Bagi saya kelas menyenangkan itu hal yang terpenting adalah semua terkait dengan kemampuan guru bagaimana mengkondisikan kelas, berinovasi, sehingga menghasilkan sesuatu yang memberikan manfaat lebih banyak bukan hanya bagi siswa melainkan juga untuk guru itu sendiri dan memiliki dampak yang baik bagi lingkungannya.

Melalui tulisan ini, saya ingin menyampaikan beberapa alternatif solusi, tentang bagaimana menjadikan proses belajar dan mengajar menjadi sesuatu yang menyenangkan, tidak lagi menjadi beban. Guru diberi kebebasan untuk berinovasi sehingga mampu menemukan hal-hal baru yang menjadi solusi, sehingga kenyamanan belajar dan mengajar dapat tercipta dengan baik.

Berdasarkan pengalaman ada tiga hal yang perlu diperhatikan, diantaranya : Pertama, bagaimana guru harus menyiapkan materi yang akan disampaikan berikut media apa yang akan digunakan (aplikasi internet, video, musik, dan lainnya) sehingga media yang digunakan tepatguna. Berharap siswa dapat menikmati materi yang disampaikan dengan hati gembira, antusias terhadap hal-hal yang disampaikan, meski materi yang disajikan sederhana.

Beberapa aplikasi/media online yang dapat digunakan diantaranya : edmodo sebagai alat pendidikan yang dapat menghubungkan antara guru dan siswa, yang berasimilasi dengan jejaringan sosial. Guru dapat membuat grup kolaboratif online. Selain itu juga terdapat Socrative, yang memungkinkan bagi guru untuk membuat latihan atau permainan pendidikan yang dapat diselesaikan oleh siswa dengan menggunakan perangkat seluler. Dan Projeqt, alat untuk membuat presentasi multimedia, dengan slide dinamis. Thinklink, guru dapat membuat gambar interaktif dengan musik, suara, teks dan foto. Serta masih banyak aplikasi lainnya yang menjadikan proses belajar mengajar lebih menarik dan dinamis.

Selain itu guru juga dapat memberikan kebebasan kepada siswa untuk memilih media yang akan digunakan ketika melakukan presentasi juga sangatlah penting. Di era milenial ini jangkauan siswa dalam penggunaan aplikasi internet lebih jauh di bandingkan dengan guru itu sendiri. Bahkan adakalanya jauh lebih menarik. Disini guru hanya memberikan motivasi dan memberikan arahan dan kebebasan kepada siswa untuk lebih mengembangkan apa yang sudah disampaikan oleh guru.

Kedua, kebebasan yang diberikan terhadap guru dalam berinovasi (out of box), dengan menampilkan sesuatu yang baru sehingga suasana kelas tidak monoton. Kelas menjadi dinamis dengan keaktifan siswa yang banyak terlibat di dalamnya. Disini siswa juga diberi kebebasan untuk menyajikan materi sesuai dengan minatnya. Sebagai contoh dalam menyajikan materi PPKn tentang kedaulatan. Disini ada lima macam kedaulatan, diantaranya kedaulatan tuhan, raja, rakyat, hukum, dan negara. Materi yang disampaikan tidak hanya dalam bentuk teori, tetapi bagaimana siswa juga diajak dan diberi kebebasan untuk mengetahui lebih dalam tentang salah satu negara yang menganut kedaulatan tuhan, diantaranya negara Jepang.

Melalui tayangan video berupa dokumenter atau film, siswa dapat mengeksplor fakta-fakta menarik tentang kehidupan masyarakat Jepang, termasuk di dalamnya tentang nilai-nilai baik, tradisi/kebiasaan yang hidup lebih dari ratusan tahun. Tentang kekaisaran Jepang yang tetap survive lebih dari 2000 tahun lamanya. Dan ini merupakan suatu hal yang sangat menakjubkan. Siswa dapat menyuguhkan materi pembelajaran yang hidup. Real. Dan tentu saja faktual! Dapat melakukan perbandingan tentang kelebihan dan kelemahan dari jenis kedaulatan yang dianut suatu negara.

Dan ketiga, siswa dibagi dalam beberapa kelompok. Hal ini dimaksudkan supaya siswa yang kurang aktif dapat terlibat secara langsung. Guru dengan mudah dapat memantau minat belajar siswa, dari hasil pengamatan dan informasi yang disampaikan oleh masing-masing ketua kelompok. Sehingga guru memperoleh data-data yang diperlukan untuk menganalisa media atau strategi apa yang tepat untuk digunakan ketika mengajar. Dan siswa pun memiliki pengalaman yang beragam ketika mengerjakan tugas kelompoknya. Pengalaman siswa ini dapat juga dijadikan sebagai bahan tulisan dan diskusi.

Nadiyah, Desember 2019 Dimuat dalam Antologi Buku 17