Education Quotes

Jendela

Wednesday, November 13, 2019

TIDAK IKUT LOMBA

Tema kali ini menceritakan beberapa kejadian di masa lalu ketika penulis masih duduk dibangku sekolah, ibarat membuka kotak pandora. Ketika satu kejadian diungkapkan, kejadian lainnya bermunculan mengikuti. Mengalir, tanpa henti. Ada 1001 cerita menarik yang tak akan habis-habisnya untuk diungkapkan. Sebagaimana kejadian yang aku alami ketika di Ibtidaiyah, Tsanawiyah dan Aliyah.

Tidak Ikut Lomba. 
Aku tidak ingat persisnya, yang jelas aku masih duduk di tingkat Ibtidaiyah. Pada waktu itu sekolahku mengambil bagian dari kegiatan lomba gerak jalan antar sekolah. Sekolah kami mengirimkan dua regu, laki-laki dan perempuan. Satu regu masing-masing berjumlah 12 orang. Atribut yang dikenakan selain topi dan baju training dengan warna yang senada, juga sepatu yang digunakan harus berwarna hitam.

Sebenarnya aku tidak terlalu percaya diri untuk ikut ambil bagian dalam lomba beregu ini, tetapi karena guru kelas yang memilih, jadilah aku menjadi salah satu pesertanya. Entalah, apa yang menjadi pertimbangannya. Mungkin karena aku cukup menonjol dibandingkan dengan teman-teman lainnya, padahal kalau dilihat dari segi fisik, tinggi badanku biasa-biasa saja. Atau mungkin karena ayahku ketua yayasan, atau mungkin prestasiku cukup membanggakan, atau mungkin ... .

Aku tidak hadir pada hari H lomba gerak jalan, padahal sudah beberapa kali aku mengikuti latihan persiapan lomba. Alasan sebenarnya adalah sederhana, aku tidak memiliki sepatu hitam yang menjadi syarat bagi peserta yang akan ikut lomba. Bukan karena tidak ada uang, aku tidak memberitahukan hal tersebut kepada orang tuaku bahwa aku akan ikut lomba dan butuh sepatu hitam. 

Aku menyadari, aku begitu menyepelekannya dan berpikir tidak akan terjadi apa-apa andai aku tidak hadir pada saat lomba. Toh ada banyak teman-temanku yang akan menggantikannya. Ternyata aku salah, begitu naif. Aku tidak berfikir panjang, justru ketidakhadiranku membuat kecewa dan malu pihak sekolah. Duuuh ... .    

Pribadi Yang Cuek. 
Cerita lainnya ketika KBM sedang berlangsung. Karena sedang asyik menulis aku tidak mendengar beberapa informasi yang disampaikan guru yang ditujukan kepada teman-teman sekelas termasuk aku. Karena aku murid baru, aku pun tidak meresponnya. Aku mengira informasi tersebut bukan ditujukan kepadaku, sehingga begitu tenangnya aku duduk manis di barisan kedua. Tetapi ternyata aku salah, informasi tersebut berlaku untuk semua anggota kelas. Sikap cuekku ini membuat keterlambatan pengiriman data yang seharusnya segera dikirim pihak sekolah.

Tidak Mengerjakan PR IPA. 
Salah satu kelalaianku pagi itu adalah lupa mengerjakan tugas IPA. Waktu itu aku duduk di kelas dua (sekarang kelas 11). Tentu sebagai konsekuensinya aku harus mengerjakannya di luar kelas. Ketentuan tersebut adalah bagian dari aturan yang tidak tertulis. Awalnya aku sedikit terkejut, dan tidak tahu apa yang harus aku lakukan selama aku di luar kelas. Sendirian di luar kelas membuatku jenuh, meski aku tahu harus menyelesaikan PR IPA selama pelajaran IPA berlangsung.

Jika dipikir-pikir betapa malunya aku. Yah aku akui aku bersalah, tapi mau bagaimana lagi semua sudah terlanjur. Tiba-tiba satu ide briliant muncul di kepalaku,  kenapa aku tidak menggunakan kesempatan ini untuk melakukan sesuatu, bersenang-senang atau melakukan hal lainnya misalnya? Oww ... Aku pun melenggang turun ke lantai bawah dan bersembunyi di kantin sekolah. Aku memutuskan tidak akan kembali ke kelas sampai pelajaran IPA berakhir. Belakangan aku tahu, beberapa menit aku berada di luar kelas, guru IPA meminta teman karibku untuk mencariku dan meminta kembali ke kelas.


Nadiyah
Jakarta, 12 November 2019




Saturday, August 24, 2019

Bakat Menulis


Tahun pelajaran baru aku mendapat kesempatan  mengajar di kelas sembilan, semuanya kelas perempuan. Tentu ada banyak perbedaan jika dibandingkan dengan kelas laki-laki, suasana kelas yang riuh dan terkadang kurang tertib. Kelas perempuan berbanding terbalik, suasana senyap terkadang hanya satu atau dua yang bertanya, itu pun kalau aku memberikan kesempatan bagi mereka untuk bertanya. Kurangnya komunikasi dua arah menyebabkan kelas seperti kuburan. Pembelajaran lebih banyak satu arah. Menurut Percival dan Ellington pendekatan yang aku lakukan lebih berorientasi pada guru, padahal tidaklah demikian. Aku berusaha seaktif mungkin melakukan komunikasi dua arah. Dengan berbagai pertanyaan yang aku ajukan, dan sesekali diselingi dengan hal-hal yang lucu.

Entahlah mungkin dipikiran mereka materi yang aku sampaikan kurang menarik sehingga mood dan responnya pun hampir tidak ada sama sekali. Hanya satu-dua siswa yang merespon. Mereka umumnya hanya memperhatikan dan menyerap materi yang ku sampaikan dengan perlahan. Begitu selanjutnya, sampai waktu pelajaran habis. Padahal materi yang aku sampaikan terbilang begitu update, menyajikan berbagai macam sumber dan informasi yang boleh dikatakan baru, dan selalu berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Meski materi tersebut terkadang bersifat dokrinal.

Benarkah materi PPKn yang ku sampaikan kurang menarik? Atau karena faktor miskin metode? Atau tipikal siswanya yang lebih cenderung visual? Atau ... . Ada begitu banyak kata “atau” di kepalaku. Tapi aku tidak kehabisan akal, sebagaimana sebelumnya, berbagai model pembelajaran aku gunakan. Tentu yang akan aku gunakan adalah model pembelajaran yang disesuaikan dengan materi dan tujuan yang hendak dicapai. Kali ini aku menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning. Model yang menghadapkan siswa pada masalah dunia nyata. Dengan melakukan perbandingan antara suatu peristiwa di Indonesia dan di negara lain, seperti Jepang.

Bukankah anak-anak milenial suka akan hal-hal yang berbau Asia, seperti Korea dan Jepang? negara yang banyak memproduksi film atau drama, dan tontonanya selalu diminati oleh masyarakat tidak hanya di kawasan Asia tapi juga di berbagai negara? Tidak ada salahnya aku menyandingkan dan melakukan perbandingan dengan kehidupan bangsa lain. Mungkin ini akan lebih menarik dan menumbuhkan antusias yang tinggi dalam belajar.

Pertama-tama aku tayangkan sebuah video yang berisi tentang informasi suatu peristiwa Tsunami dan gempa bumi yang terjadi belum lama ini di Indonesia dan di Jepang--mata pelajaran PPKn tidak membahas penyebab terjadinya bencana alam tersebut--melainkan dari segi aspek perilaku yang ditujukan oleh masyarakat terhadap bencana yang mereka alami dan dikaitkan dengan materi yang aku sampaikan pada waktu itu tentang nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.

Setelah menyaksikan sebuah tayangan video, aku meminta mereka membuat resume atau tepatnya sejenis laporan tentang suatu kejadian yang seolah-olah mereka saksikan dengan kedua mata mereka, kemudian memberikan pendapatnya terhadap peristiwa tersebut. Disinilah dituntut siswa memiliki kecakapan dalam pencarian dan pengolahan informasi, serta kecakapan dalam memecahkan masalah dan berfikir kritis melalui opini atau pendapat yang mereka tuangkan dalam sebuah tulisan.

Hasilnya? Cukup mengagumkan. Mereka mampu membuat resume atau laporan dengan baik. Aku pun berkesimpulan bahwa kurangnya respon, seolah-olah komunikasi hanya satu arah bukan berarti mereka tidak memahami dan menyimak materi yang aku sampaikan. Melainkan adanya perbedaan tipikal siswa dalam menyerap materi yang disampaikan oleh guru. Butuh waktu bagi mereka untuk menjadi seorang yang cakap dalam berkomunikasi dalam melakukan umpan balik. Yang terpenting bagiku minimal mereka mampu menuangkan dalam bentuk tulisan. Dan aku yakin mereka memiliki bakat untuk menjadi seorang penulis atau jurnalis!

Nadiyah
Jakarta, 23 Agustus 2019

Wednesday, July 17, 2019

Karierku Sebagai Guru

Teachers are unique problem solvers by character, temperament, and resilience. Teachers CAN NOT be manufactured to fit someone's business model for education. ~Robert John Meehan. Setiap kali memulai menulis, aku berupaya untuk mencantumkan kata-kata bijak, berharap untaian kata-kata yang aku tulis mengalir, lebih terarah dan bermakna.

Awalnya ada sedikit keraguan untuk menulis tema besar tentang Meneropong Karier Guru sebagaimana yang telah digagas oleh Master Eka Wardana pada SGSI KMA-OP 13. Setelah merenung sejenak (bahkan aku pun harus mencari bahan dari berbagai sumber, mencoba menelaah arah dari tema yang diangkat kali ini). Terus terang aku tak pernah membayangkan tentang karierku, hal itu mengalir begitu saja dengan menjalankan kewajibanku sebagai guru sebaik mungkin. Sebagaimana bayanganku sebelumnya, karier guru di sekolah meliputi dua hal, yaitu karier struktural (berhubungan dengan kedudukan seseorang di dalam struktur organisasi tempat dimana aku bekerja, seperti kepala sekolah, pengawas, wali kelas dan lain-lain) dan karier fungsional (pencapaian formal di dalam profesi yang digelutinya : guru madya, guru dewasa, guru pembina dan guru professional).

Dalam Undang-Undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, guru adalah tenaga professional dengan segala implikasinya. Meski demikian guru diberikan kesempatan untuk mengembangkan karier. Pengembangan karier (career depelopment) ini pada kenyataannya belum memperoleh porsi yang memadai. Dibutuhkan berbagai syarat dan embel-embel lainnya seperti guru harus juga mengumpulkan angka kredit melalui kegiatan-kegiatan akademik. Melakukan penelitian, menulis karya ilmiah, seminar, lokakarya, simposium atau lainnya.

Dengan demikian adakah jalur lain selain yang disebutkan di atas yang harus dilalui oleh seorang guru dalam mengembangkan kariernya? Bagaimana andai ada guru mata pelajaran di suatu bidang, katakanlah guru PPKn yang memiliki prestasi juara lomba catur tingkat nasional? Atau guru mata pelajaran IPA yang meraih juara di bidang oleh raga, renang misalnya? Bagaimana dengan angka kreditnya?

Merujuk pada kata-kata mutiara di atas, guru memiliki karakter yang unik,  guru tidak dapat diproduksi untuk dapat dipaksa harus disesuaikan dengan model bisnis seseorang untuk kepentingan pendidikan. Guru memiliki nalurinya tersendiri, bahkan berjalan sesuai garis edarnya yang mereka miliki. Begitulah guru, karena keunikannya guru memiliki jiwa merdeka, ibarat tunas yang akan terus tumbuh meski berada dalam empat musim sekalipun! Untuk itu aku akan lebih cenderung untuk mengembangkan karier melalui jalur non formal, menjadi penulis atau sesuatu yang aku ingin lakukan.

Profesi guru adalah profesi terindah. Sekian tahun aku menjalani profesi sebagai guru, barulah aku menyadari. Tentu dengan lika-liku dan perjuangan yang cukup panjang. Memiliki sisi yang menarik dan ada begitu banyak problema yang membutuhkan jawaban yang tidak akan cukup untuk diurai di sini. Padatnya jadwal dan aktivitas yang menyita waktu, menjadikan guru harus mampu menggunakan waktu yang dimiliki secara cermat dan cerdas. Aku sendiri tidak pernah berangan-angan untuk karierku ke depan. Bagiku, profesiku sebagai guru sudahlah cukup, karier akan mengalir dengan sendirinya, karena aku ingin dapat menjadi apapun yang aku inginkan. Tinggal bagaimana aku harus berusaha keras meningkatkan kualitas diri melalui beberapa komunitas di mana aku bergabung di dalamnya, sehingga skill ku di bidang lain pun akan mampu terasah dengan baik. 


Nadiyah, Jakarta , 16 Juli 2019

Wednesday, January 30, 2019

KOLABORASI ITU PENTING

Kolaborasi itu penting bagi guru abad 21. Tanpa kolaborasi seorang guru akan mengalami stagnan, tidak kreatif dan membosankan. Kolaborasi adalah keharusan bagi guru untuk membuka cakrawala berpikirnya, dan bukan itu saja guru dituntut lebih untuk berpikir jauh ke depan melampaui langkahnya.

Penulis mengkupas poin tentang pentingnya guru harus berkolaborasi, terlibat langsung dalam sebuah komunitas apa pun itu. Hal ini didasarkan kepada pengalaman penulis, ketika mengalami kendala dalam mencari formulasi tentang media pembelajaran yang tepat untuk materi ajar pada mata pelajaran PPKn, terutama tentang materi norma sebagai materi utama.

Dalam sebuah artikel yang dimuat oleh edutopia edisi Juni tahun 2015, Tsisana Palmer membagi sedikitnya ada 15 karakteristik guru abad 21, diantaranya : Learner-Centered Classroom and Personalized Instructions, Students as Producers, Learn New Technologies, Go Global, Be Smart and Use Smart Phones, Blog, Go Digital, Collaborate, Use Twitter Chat, Connect, Project-Based Learning, Build Your Positive Digital Footprint, Code, Innovate, Keep Learning. Salah satu yang menarik menurut penulis adalah poin tentang kolaborasi.

Sebagaimana kita ketahui teknologi membuka peluang begitu besar bagi siapapun untuk dapat  berkolaborasi, termasuk di dalamnya guru dan siswa, siswa dengan siswa, atau  antar guru yang sama atau berbeda bidang studinya. Kolaborasi adalah cara yang efektif untuk menciptakan berbagai sumber daya digital, presentasi dan proyek bersama, dan telah menjadikan kita dapat berbagi dokumen melalui e-mail atau membuat presentasi PowerPoint. Banyak ide hebat lahir melampaui percakapan atau salinan makalah sebelumnya. Secara global dapat mengubah seluruh pengalaman yang pernah kita lakukan.

Dalam beberapa catatan yang terkangkum dalam berbagai kegiatan pembelajaran, penulis pernah mengalami kegelisahan ketika menghadapi berbagai hambatan dalam menentukan media pembelajaran yang efektif bagi mata pelajaran PPKn. Materi ajar PPKn selama ini dianggap tidak begitu menarik, membosankan dengan penyampaian materi tanpa inovasi, begitu datar. Tidak cukup hanya menampilkan video, slide atau semacamnya. Dibutuhkan varian yang lebih banyak untuk merangsang daya imaginasi dan keingintahuan siswa dalam memahami dan menguasai materi ajar yang disampaikan. Sehingga mampu untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.Teringat salah satu quote yang diposting oleh seorang pakar pendidikan bahwa ke depan tampa berkolaborasi seorang guru akan tertinggal jauh. 

Awal tahun 2010 penulis bergabung dalam sebuah club bahasa Inggris. Meski tidak ada hubungannya dengan mata pelajaran yang penulis ampu, ini adalah sebagai langkah awal untuk memotivasi dan melihat bagaimana para guru di manca negara bekerja dalam menerapkan dan menggunakan teknologi dalam dunia pendidikan mereka untuk berbagi pengalaman dan ide-ide. Mereka berkolaborasi dalam banyak hal yang terhimpun dalam sebuah konferensi. Mereka menunjukan kemampuannya dalam menciptakan sesuatu yang baru, dengan hasil akhir bukan hanya mereka dapat menerapkannya di masing-masing areanya setelah kembali dari event internasional tersebut, juga harapan besar bagi peserta didik mereka. Menarik bukan? Seolah-olah dunia ada digenggaman mereka, karena mereka mampu meletakan senyum di setiap wajah-wajah orang lain.

Apa hasil yang penulis peroleh dari hasil bergabung dalam komunitas bahasa Inggris? Bukan hanya sebuah link tentang aplikasi bagaimana untuk belajar bahasa Inggris yang efektif melalui komik, tetapi itu juga dapat diterapkan pada materi ajar PPKn sebagai media pembelajaran yang sangat brilian, terutama pada materi norma.  Para peserta didik begitu antusias, terutama ketika mereka mampu berkolaborasi dengan peserta didik lainnya. Setiap tahun ada begitu banyak cerita menarik yang mereka dapat ekspresikan. ~

 

Nadiyah

SGSI Kelas Menulis 8, Jakarta, 7 Desember 2018

Wednesday, September 5, 2018

Menulis itu ...

Kegiatan menulis membuat aku peka terhadap apa yang terjadi di sekeliling ku. Ku amati setiap detik waktu berjalan, mulai bangun tidur, segala aktivitas yang aku lakukan di sepanjang pagi hingga sore. Ketika tiba di rumah, mulai magrib sampai menjelang fajar dan begitu seterusnya. Menulis bagiku adalah suatu refleksi dari apa yang aku alami yang dituangkan dalam kata-kata dan menjadikannya hidup di dunia nyata. Sebagaimana makhluk hidup pada umumnya, kata-kata juga harus diperlakukan dengan baik, mereka akan tumbuh dan berkembang mengikuti arus perubahan zaman. Meski terkadang kata-kata hanya tercatat dalam imajinasi atau pikiran-pikiranku yang berseliweran antara kutub utara dan selatan.

Untuk menguntai kata dalam puisi, terkadang aku harus membaca beberapa tumpukan artikel atau kumpulan klipping koran, mengamati sekelilingku dari waktu ke waktu, seakan aku tidak boleh berkedip sedetik pun! Kata-kata begitu misterius, mereka akan menghilang walaupun sekejap saja. Seperti asap yang mampu aku tangkap dalam pandangan tapi sulit untuk ku genggam. Dan seperti angin yang mampu aku rasakan tapi sulit untuk ku lihat. Sebagaimana juga ketika aku memiliki keinginan untuk menulis artikel kecil atau hanya sekedar memenuhi salah satu rubrik setiap bulannya di salah satu website kursus bahasa Inggris .

Ahh ... terkadang menulis itu juga membosankan! Andai ada aplikasi yang dapat merekam apa yang aku pikirkan dan aku katakan tak perlu lagi aku menulis. Biasanya untuk menghilangkan kejenuhan aku keluar rumah hanya untuk sekedar merehatkan pikiran dan hati. Tapi memang hidupku tak bisa lepas dari kata-kata, karena aku lahir dari tumpukan kata-kata. Aku hidup di lingkungan yang berbudaya.

Minggu ini ada tema yang menarik yang aku baca dari Chat Telegram SGI tentang "Aku Guru Merdeka Menulis". Tema yang diangkat pada SGI menulis 6. Yah, seharusnya guru memiliki kebebasan menulis, mereka dapat menuangkan apa yang dirasakan,  dipikirkan atau apa yang dialami. Setiap momen adalah tema yang dapat dijadikan bahan untuk menulis.

Hmm ... pertama yang harus aku lakukan biasanya browsing atau membaca beberapa status di medsos, Twitter atau Facebook. Pagi ini aku menemukan kata-kata yang luar biasa, sebagaimana sebelumnya aku dapatkan dari Pak Eka Wardana, tutorku yang penuh semangat dan selalu mengispirasi.

Writing is hard. Only if you’re paying attention to the words. Let the words lead you and don’t think about what you’re saying. You’re just the pencil. Let the muse be the hand holding you~ @johnguzlowski. Twitter.

Yes! Satu kunci aku dapat. Jangan berfokus pada kata-kata. Biarkanlah kata-kata mengalir sampai jauh, sesuai sifat alaminya. Sebagaimana air yang mengalir kemudian bermuara ke laut.

Mengapa aku menulis? Sejak SMP aku sangat berminat untuk menjadi penulis. Setiap hari aku membaca beberapa cerpen (biasanya satu majalah berisi kumpulan cerbung atau cerpen, seperti Majalah Anita) atau satu novel. Entah aku pinjam dari seorang teman atau aku beli dari uang jajanku sendiri. Pernah juga sangking minatnya aku ingin menjadi penulis, aku ikut lomba menulis cerpen yang diselenggarakan oleh salah satu surat kabar ibu kota, Pos Kota. Meskipun dari segi tata bahasa atau kaidah menulis sangatlah jauh. Tapi entah mengapa seiring berjalannya waktu, semangatku perlahan surut. Bahkan tidak ada semangat sedikit pun yang tersisa. Dan aku pun mulai 'amnesia'.

Sampailah kemudian aku bergabung bersama teman-teman di SGI. Setelah menyimak dari beberapa kali pertemuan, di mana materi dan tema yang disajikan begitu ringan, runut dan tidak beku, menjadikan aku mudah untuk mengikuti tahapan demi tahapan, tentu saja dengan tidak lepas dari kesabaran dan dedikasi si penyaji, bapak Eka Wardana dan teman-teman yang selalu menginspirasi, menjadikan aku mudah untuk mencerna apa yang beliau sampaikan sehingga tak terasa sudah 2 buku ontologi aku lalui. Aku berharap dengan bergabungnya aku dalam komunitas ini menjadikan semangatku terpupuk dengan baik dan pada akhirnya aku dapat meraih impianku. Bagiku menulis adalah sebagaimana kata-kata mutiara yang aku tulis : Writing is a wingless way to fly ~ Aku ingin terbang tanpa sayap!

Jakarta, 30 Agustus 2018

Wednesday, August 1, 2018

My Story : Guru Terkenang

“Guru Ceker Ayam”  

Terkenang. “Tulisanmu seperti ceker ayam, Nadiyah!”. Itu kata-kata yang diucapkan oleh guru kelasku pada waktu aku duduk di kelas tiga SD. Aneh, sedikit pun aku tidak terganggu, marah atau sakit hati. Mungkin aku belum mengerti apa yang dikatakannya. Waktu itu aku hanya memandangi wajahnya. Polos. Dipikiranku “ceker ayam” adalah sama dengan ceker ayam yang dimasak oleh ibuku,  sesuatu yang lezat tentunya, apalagi ceker ayam sebelum digoreng terlebih dahulu dikecut (“kecut” istilah kampung untuk menyebut masakan yang direbus dengan bumbu khusus yang terdiri dari : langkuas, sereh-daun salam, kunyit, bawang putih dan garam). Bagian itulah yang paling aku suka, terkadang aku untuk memperolehnya berebut dengan saudaraku yang lain, siapa yang cepat dia yang dapat, begitulah kira-kira. Karena jumlahnya terbatas tergantung berapa ekor banyaknya ibuku beli di pasar. Kalau dua ekor berarti hanya empat ceker ayam yang tersedia. Dapat dibayangkan betapa besarnya perjuanganku.

Aku pindah sekolah di tahun ketiga. Sekolah lamaku pindah ke lokasi yang cukup jauh dari tempat tinggalku, sebelumnya lokasinya hanya berjarak beberapa rumah dari rumahku. Mungkin ayahku khawatir dengan jarak sekolah yang jauh, maka dipindahkannyalah aku ke sekolah milik kakekku yang jaraknya sekitar 200 meter dari rumah. Tidak ada yang istimewa, semua biasa-biasa saja, sampai untuk pertama kalinya aku mendengar kata-kata : “Tulisanmu seperti ceker ayam, Nadiyah!”. Yang menjadi tanda tanya  mengapa beliau pada waktu itu tidak mengatakan “Tulisanmu jelek, Nadiyah!”. Kalau aku ingat kejadian itu, aku hanya tersenyum. Toh pada kenyataanya beberapa tahun kemudian tulisanku paling bagus di antara teman-temanku. Selain itu setelah aku menjadi guru, baru aku menyadari bahwa seorang guru ketika mengungkapkan sesuatu kepada siswa-siswinya, hal yang paling penting adalah kehati-hatian dalam memilih kata-kata untuk disampaikan, sehingga tidak menyakiti atau membuat down siswanya. Tentu sebuah pelajaran berharga buatku.

Nadiyah
Jakarta, 28 Juli 2018 - dimuat dalam Buku Antologi Guru Menulis SGI 5 : Cerita Guru


Sunday, May 27, 2018

KOMIK SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN YANG EFEKTIF


Pic by me

Satu satu unsur yang sangat penting dalam proses belajar mengajar selain metode pembelajaran adalah media pembelajaran. Media pembelajaran adalah komponen integral dari sistem pembelajaran, menurut Oemar hamalik media pembelajaran adalah alat, metode, dan teknik yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pendidikan dan pembelajaran di sekolah. Selain itu media pembelajaran memiliki fungsi motivasi yang dapat mengarahkan perhatian dan memotivasi siswa di setiap konten yang ditampilkan, sehingga  siswa lebih berkonsentrasi dan aktif ketika proses pembelajaran dimulai dalam kelas. 

Ada beberapa jenis media pembelajaran yang dapat digunakan, salah satunya adalah media visual, media yang dapat memberikan rangsangan-rangsangan visual diantaranya komik. Komik adalah kartun yang mengekspresikan karakter dan memerankan cerita secara berurutan. Sedangkan komik digital adalah komik yang dibuat tidak menggunakan printed material, sebagaimana komik pada umumnya. Biasanya komik digital dijalankan oleh si mesin pintar komputer, gadget, smartphone dan sejenisnya.

Bagaimana cara menggunakan komik sebagai media pembelajaran?
Guru dapat mengambil foto -- (penulis menyarankan foto diambil dari hasil bidikan sendiri bukan copian atau mengambil dari internet) --untuk membuat karakter komik sesuai dengan materi yang sedang dipelajari. Setiap foto yang digunakan dalam komik dapat diubah agar tampak seperti komik dengan menggunakan beberapa elemen yang tersedia (speech bubble, teks narasi, efek dan elemen lainnya yang dibutuhkan). Software desain komik dirancang untuk membantu guru mengubah foto menjadi komik dan memiliki berbagai macam template untuk membuat komik tampak unik. Guru dapat menggunakan powerpoint, aplikasi online :http://www.superlame.com/ , atau aplikasi android lainnya yang tersedia.

Manfaat Menggunakan Media Pembelajaran Berbasis Komik
Sebagai alat bantu proses belajar mengajar, komik sebagai salah satu media pembelajaran dapat dipergunakan tidak hanya untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemampuan atau ketrampilan, juga dapat menumbuhkan daya imaginasi siswa sehingga mendorong terjadinya proses pembelajaran yang lebih menarik dan terarah. Banyak manfaat yang dapat kita ambil dari menggunakan media pembelajaran ini. Berdasarkan pengalaman penulis di MTs Negeri 6 Jakarta pada pelajaran PPKn (khususnya materi Norma—yang sudah dipraktekkan), ada beberapa manfaat menggunakan media pembelajaran berbasis komik ini, diantaranya :

1. Bagi guru

  • Meningkatkan kreativitas dan inovasi guru dalam mengembangkan dan menciptakan media pembelajaran. Terdapat berbagai varian aplikasi komik digital yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran sehingga materi yang disampaikan oleh guru tidak membosankan.
  • Merubah peran guru ke arah yang lebih produktif. 

2. Bagi siswa 

  • Materi pembelajaran lebih mudah dipahami oleh siswa. Hal ini disebabkan komik sangat menarik dan menyenangkan sehingga siswa tidak mudah bosan sekaligus dapat menikmati pembelajaran. Dengan tampilan full warna, tentu ini akan menjadi daya tarik tersendiri bagi siswa.
  • Meningkatnya penguasaan konsep kelas oleh siswa. Siswa belajar dalam suasana yang menyenangkan, fokus pada pembelajaran dan materi pembelajaran lebih mudah dipahami sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
  • Pemberian tugas oleh guru terhadap siswa dalam pembuatan komik dapat terjalinnya komunikasi yang baik antarsiswa, ini akan sangat menyenangkan apabila tugas dilakukan secara berkelompok. 
  • Menumbuhkan kreatifivitas dan inovasi. Siswa diberikan kebebasan untuk berkreasi sesuai dengan perkembangan imajinasinya terhadap materi yang disampaikan oleh guru.

oo00oo